Sebuah harapan yang, jika dikabulkan, mungkin akan menjadi salah satu momen langka di mana perang dan spiritualitas sepakat untuk tidak saling mengganggu.
Seperti diketahui, kawasan Timur Tengah tengah dilanda konflik berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga merembet ke stabilitas kawasan, termasuk negara-negara Teluk seperti Arab Saudi.
Namun demikian, pemerintah Indonesia tetap berpegang pada rencana awal. Tidak ada penundaan, tidak ada pembatalan, setidaknya untuk saat ini.
Keputusan ini mencerminkan keyakinan bahwa ibadah harus tetap berjalan, bahkan di tengah ketidakpastian global. Namun di sisi lain, realita di lapangan tetap menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
Di tengah dentuman konflik, jutaan umat Muslim dari berbagai negara akan berkumpul di satu titik. Sebuah ironi sekaligus harapan bahwa di saat dunia terpecah, masih ada ruang untuk berkumpul dalam satu tujuan.
Untuk sekarang, pemerintah memilih optimisme.
Bahwa di antara suara sirene dan berita perang, panggilan ibadah tetap bisa terdengar lebih nyaring.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










