Bakti menilai adanya dikotomi gaya kepemimpinan di pucuk pimpinan Kabupaten Garut. Ia menganggap Bupati Garut mengalami political fatigue atau kelelahan politik pasca-pelantikan, sehingga terkesan pasif dalam merespons isu-isu kerakyatan.
“Ada indikasi disparitas respons. Wakil Bupati konsisten melakukan penetrasi lapangan dan menyerap aspirasi warga, sementara Bupati seolah terjebak dalam zona nyaman birokrasi,” ujar Bakti.
Lebih lanjut, GLMPK menyoroti adanya kecenderungan selektivitas dalam komunikasi publik sang Bupati. Bakti menuding adanya fenomena gatekeeping yang membuat aspirasi masyarakat kelas bawah sulit menembus ruang kerja Bupati, berbeda dengan respons cepat yang diberikan kepada kelompok kepentingan atau pengusaha besar.
“Kami mendapati adanya anomali; aspirasi masyarakat sering kali mengalami resistensi (masuk kuping kiri keluar kuping kanan), namun ketika ada perwakilan dari asosiasi pengusaha besar, respons yang diberikan sangat akseleratif,” sindirnya. GLMPK mendesak Bupati Garut untuk melakukan reorientasi kebijakan yang lebih populis dan inklusif, bukan sekadar terjebak dalam formalitas protokoler di balik meja kerja yang nyaman. (Asep/Red)

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues










