Ia menegaskan Iran tidak akan memulai serangan, namun siap merespons keras jika diserang, ini sebuah formula klasik dalam doktrin pertahanan yakni tidak menyerang duluan, tapi tidak akan diam jika diserang.
Di level militer, kesiapan itu juga ditegaskan oleh IRGC. Komandan mereka, Mohammad Karami, menyebut pasukannya berada di puncak kesiapan, didukung jaringan rudal bawah tanah, drone, dan sistem pertahanan berlapis.
Dengan kata lain, jika invasi benar terjadi, medan tempur tidak hanya ada di darat, tetapi juga di udara dan bawah tanah.
Peringatan Tehran Times juga menyoroti potensi efek domino yang lebih luas. Konflik darat di Iran bukan hanya soal dua negara, tetapi bisa menyeret sekutu regional, memperluas konflik, dan mengganggu jalur perdagangan global.
Apalagi, kawasan ini bersinggungan langsung dengan jalur vital seperti Selat Hormuz yang jadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia. Gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada harga minyak dan stabilitas ekonomi global.
Meski Donald Trump secara terbuka menyebut jalur diplomatik masih tersedia, pesan yang datang dari Teheran, baik melalui pemerintah maupun medianya, hal itu menunjukkan tingkat ketidakpercayaan yang dalam.
Dalam konteks ini, halaman depan koran bukan lagi sekadar produk jurnalistik, melainkan alat komunikasi politik: keras, simbolik, dan penuh pesan tersembunyi.
Dan ketika sebuah surat kabar sudah mulai berbicara dengan nada ultimatum, dunia biasanya tahu satu hal dimana ketegangan sudah melampaui ruang negosiasi biasa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










