Di sisi lain, Iran juga tidak tinggal diam. Serangan rudal dan drone mereka sebelumnya melukai sedikitnya 10 personel AS di pangkalan udara Pangeran Sultan, Arab Saudi.
“Tanpa Pasukan Darat” Tapi Siap Jika Perlu
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa tujuan Washington bisa dicapai tanpa pengerahan pasukan darat. Namun, ia juga menambahkan bahwa semua opsi tetap terbuka, sebuah kalimat diplomatik yang sering kali berarti “kami belum ingin, tapi bisa kapan saja.”
Di atas semua itu, keputusan tetap berada di tangan Donald Trump, yang disebut tengah mempertimbangkan berbagai skenario.
Efek Domino Global
Konflik ini tak hanya terjadi di medan tempur. Dampaknya merembet ke penerbangan sipil, harga minyak, hingga jalur perdagangan global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat dunia kembali sadar bahwa satu jalur laut bisa menentukan stabilitas ekonomi global.
Sebagai jalur vital, sekitar 12% perdagangan dunia bergantung pada konektivitas kawasan ini. Ketika terganggu, efeknya terasa dari pom bensin hingga pasar global.
Sebagai alternatif, jalur Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez menjadi tumpuan. Namun, jalur ini pun tidak sepenuhnya aman.
Babak Baru: Houthi Ikut Main
Konflik semakin kompleks setelah kelompok Houthi yang didukung Iran ikut terlibat. Mereka mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Israel, meski berhasil dicegat.
Juru bicara militer mereka, Yahya Saree, menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari koordinasi dengan Iran dan Hezbollah, sebuah indikasi bahwa konflik ini mulai menyerupai “aliansi terbuka”.
Analis dari International Crisis Group, Ahmed Nagi, memperingatkan bahwa serangan terhadap jalur pelayaran bisa memperburuk krisis global.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










