Peran orang tua tetap krusial. Begitu pula sekolah yang harus mulai mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risikonya.
Platform digital pun tidak bisa terus bersembunyi di balik dalih “kebebasan pengguna”. Mereka harus ikut bertanggung jawab atas desain sistem yang secara aktif mendorong kecanduan dan eksploitasi perhatian.
Mengasuh di Era Digital
Pada akhirnya, kebijakan ini membuka kenyataan yang tak nyaman: mengasuh anak di era digital jauh lebih kompleks daripada sekadar membatasi waktu bermain.
Negara boleh saja memasang pagar, tetapi tanpa pondasi edukasi dan kesadaran bersama, pagar itu hanya akan jadi formalitas yang mudah dilompati.
Pertanyaannya bukan lagi apakah anak boleh mengakses media sosial, tetapi bagaimana memastikan mereka tidak tersesat di dalamnya.
Dan untuk itu, satu hal pasti dimana algoritma tidak akan pernah berhenti bekerja. Jadi, mungkin memang sudah waktunya semua pihak turut serta, mulai dari negara, orang tua, dan masyarakat ikut “login” dalam tanggung jawab yang selama ini terlalu lama dibiarkan berjalan sendiri.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









