LOCUSONLINE, JAKARTA – Di ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang biasanya penuh bahasa diplomatik halus, Indonesia memilih jalur berbeda dengan menyebut nama satu per satu korban, seolah mengingatkan dunia bahwa di balik istilah “eskalasi konflik”, ada manusia yang benar-benar gugur.
Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam sidang darurat yang disiarkan melalui kanal resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (31/3/2026), membacakan nama tiga prajurit TNI yang tewas dalam misi perdamaian di Lebanon.
Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon (27), Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), dan Sertu Muhammad Nur Ichwan (25).
Kalimatnya sederhana, tapi nadanya tidak “Kami tidak bisa menerima pembunuhan terhadap para penjaga perdamaian ini!”
Dalam dunia konflik modern, korban sering kali direduksi menjadi angka. Tiga, lima, seratus, lalu selesai. Namun Indonesia tampaknya ingin merusak tradisi dingin itu.
Selain korban tewas, Umar juga menyebut lima prajurit yang terluka yaitu Kapten Sultan Wiryan Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arief Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Deni Riyanto.
Pesannya jelas dan sedikit menyentil: ini bukan laporan excel.
Menurut penjelasan Indonesia, Praka Farizal gugur saat bertugas di pos Adchit Al Qusayr. Sementara Kapten Zulmi dan Sertu Ichwan tewas saat menjalankan pengamanan logistik di wilayah Banni Hayyan, Lebanon selatan, dalam misi UNIFIL.
Misi yang secara teori disebut “penjaga perdamaian”, tapi dalam praktiknya sering lebih mirip “penjaga diri sendiri di zona perang”.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










