“Korban ditemukan dalam kondisi bingung dan tidak memakai pakaian,” ujar Ate.
Saksi menyebut, sebelum ditemukan, MR sempat terlihat berjalan tanpa arah, berbicara sendiri, bahkan hanya komat-kamit tanpa suara saat diajak bicara.
Ketika akhirnya dimintai keterangan, MR belum mampu memberikan narasi yang utuh. Ia justru menyebut dikejar geng motor, sebuah klaim yang tidak didukung oleh saksi maupun kondisi lokasi.
Di sisi lain, sebelum hilang, MR disebut sudah menunjukkan perilaku tidak biasa. Ia berbicara tentang hal-hal mistis, termasuk hantu, hingga membuat keponakannya ketakutan dan ingin pulang lebih awal.
Kondisi ini membuat penyelidikan tidak bisa hanya berhenti pada cerita permukaan.
Kasus ini memperlihatkan pola klasik dimana fakta berjalan pelan, sementara asumsi berlari kencang. Dari “kesurupan”, “dibawa makhluk halus”, hingga teori liar lainnya, publik seolah lebih cepat percaya pada yang tak terlihat dibanding menunggu hasil penyelidikan.
Padahal, pihak kepolisian menegaskan bahwa pendekatan ilmiah tetap menjadi dasar utama.
“Meski ada unsur yang dianggap mistis, kami tetap melakukan penyelidikan secara ilmiah,” tegas Ate.
Saat ini, MR direncanakan menjalani pemeriksaan di puskesmas untuk mengetahui kondisi fisik dan psikisnya. Polisi juga masih melakukan pendampingan dan penyelidikan lanjutan, kasus ini belum selesai bahkan bisa jadi baru dimulai.
Di tengah derasnya narasi mistis, satu hal yang pasti: tubuh ditemukan, tetapi cerita belum. Dan di negeri yang sering lebih cepat percaya pada hal gaib ketimbang data, Gunung Guntur kembali mengajarkan bahwa misteri terbesar bukan selalu di hutan—melainkan di cara kita memahami kenyataan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










