[Locusonline.co] Jakarta – Indonesia kini memiliki ekosistem perdagangan aset kripto yang lebih matang dan terstruktur. Indonesia Crypto Exchange (ICEx) resmi beroperasi sebagai Self-Regulatory Organization (SRO) berlisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 5 Januari 2026, menjadikannya bursa kripto berizin kedua di Tanah Air setelah CFX .
Yang membedakan ICEx dari pendahulunya adalah konsep infrastruktur terintegrasi tiga fungsi dalam satu naungan: bursa (exchange), kliring (clearing), dan kustodian (custody). Integrasi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang lebih efisien, transparan, dan tepercaya.
Tiga Fungsi dalam Satu Ekosistem
ICEx Group mengoperasikan tiga entitas yang saling terintegrasi :Entitas Fungsi ICEx Bursa perdagangan aset kripto Crypto Asset Clearing International (CACI) Lembaga kliring penjaminan transaksi International Crypto Custodian (ICC) Kustodian penyimpanan aset
Dengan model ini, Indonesia mengadopsi praktik terbaik internasional seperti FINRA di Amerika Serikat dan JVCEA di Jepang, yang diterapkan sesuai konteks lokal.
Modal Rp1 Triliun dari 11 Pedagang Kripto
ICEx didukung modal dasar sebesar Rp1 triliun yang berasal dari 11 Pedagang Aset Kripto Digital (PAKD) yang juga bertindak sebagai pemegang saham sekaligus anggota bursa .
Sebelas pendiri ICEx meliputi :
- PT Aethera Inovasi Digital (Aether)
- PT Finora Integrasi Nusantara
- PT Regnum Sukses Utama
- PT Volaris Visi Karya (Reku)
- PT Vita Nova Global
- FLOQ, Mobee, OSL Indonesia, Samuel Kripto, Tokocrypto, Triv, Upbit Indonesia, dan Nanovest.
Mengapa ICEx Penting bagi Industri Kripto Nasional?
1. Menjaga Potensi Ekonomi Digital Tetap di Dalam Negeri
Chief Technology Officer ICEx Group, Andrew Marchen, mengungkapkan fakta mengejutkan: sekitar 70 persen transaksi aset digital masyarakat Indonesia masih berlangsung di bursa kripto luar negeri .
“Artinya sebagian besar potensi ekonomi digital kita, likuiditas, aktivitas, bahkan inovasi, masih mengalir ke luar negeri,” ujarnya. Dengan hadirnya ekosistem yang aman dan teregulasi, diharapkan arus tersebut dapat kembali ke dalam negeri.
2. Perlindungan Konsumen dan Kepercayaan Institusional
Dengan status SRO yang diawasi OJK, ICEx bertanggung jawab atas :
- Pelaporan perdagangan
- Pemantauan integritas pasar
- Pengawasan anggota bursa
- Koordinasi dengan regulator
Mandat ini memperkuat kepercayaan publik sekaligus membuka peluang bagi masuknya investor institusional yang selama ini masih ragu karena ketiadaan infrastruktur berstandar global.
3. Fokus pada Produk Masa Depan: RWA dan Derivatif
Chief Financial Officer ICEx Group, Rizky Indraprasto, menyebut bahwa ICEx akan fokus pada pengembangan produk derivatif dan tokenisasi aset riil atau Real World Asset (RWA) .
“Fokus untuk membawa produk-produk sintetik seperti derivatif dengan order book yang lebih tebal, dengan lebih banyak variasi. Dan juga membantu kecepatan adopsi tokenisasi RWA di Indonesia,” ujar Rizky.
Grand Launching di The St. Regis Jakarta
CEO ICEx Group, Kai Pang (Pang Xue Kai), mantan CEO Tokocrypto yang sukses membawa perusahaan tersebut diakuisisi Binance, memimpin langsung peluncuran ini .
Dalam konferensi pers Grand Launching ICEx di The St. Regis Jakarta, Kamis (2/4/2026), Kai Pang menegaskan visi besar ICEx:
“Ini bukan sekadar pencapaian domestik. Indonesia sedang membangun infrastruktur kripto berkelas dunia dengan caranya sendiri.”
Struktur Manajemen ICEx Group
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| Kai Pang (Pang Xue Kai) | CEO ICEx Group / Presiden Direktur |
| Andrew Marchen | Chief Technology Officer (CTO) |
| Rizky Indraprasto | Chief Financial Officer (CFO) |

Respons OJK: Buka Ruang Persaingan Sehat
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa kehadiran lebih dari satu bursa merupakan bagian dari strategi pengembangan ekosistem nasional .
“Kehadiran lebih dari satu bursa dalam ekosistem aset keuangan dan aset kripto merupakan bagian dari agenda pengembangan dan penguatan ekosistem nasional yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Hasan.
Izin usaha diberikan kepada PT Fortune Integritas Mandiri melalui Keputusan KEP-2/D.07/2026 tanggal 5 Januari 2026.
Tantangan: Mayoritas Transaksi Masih di Luar Negeri
Meskipun infrastruktur telah tersedia, tantangan terbesar ICEx adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini menggunakan bursa luar negeri karena alasan likuiditas dan variasi produk. Kehadiran ICEx diharapkan dapat menjadi jembatan yang menjawab kebutuhan tersebut dengan standar keamanan dan regulasi yang lebih baik.
Dengan beroperasinya ICEx di bawah pengawasan OJK, industri kripto nasional kini memiliki ekosistem yang lebih terstruktur melalui integrasi bursa, kliring, dan kustodian. Langkah ini diharapkan dapat menjaga likuiditas tetap di dalam negeri, memperkuat perlindungan konsumen, serta membuka peluang masuknya investor institusional ke pasar aset digital Indonesia. (**)











