“Kalau produksi terganggu, cadangan ini yang akan menopang,” katanya.
Data terbaru per 2 April 2026 pun dipamerkan sebagai bukti kesiapan: stok beras mencapai 4,4 juta ton, jagung pakan 168 ribu ton, minyak goreng 121 ribu kiloliter, hingga gula dan daging dalam jumlah yang diklaim mencukupi.
Namun di balik angka-angka yang terdengar meyakinkan itu, publik tentu tak lupa bahwa narasi “stok aman” seringkali berhadapan dengan realita harga yang tetap merangkak naik di pasar. Di sinilah ironi klasik kembali dipentaskan: gudang disebut penuh, tapi dompet rakyat tetap terasa kosong.
Pemerintah memang menjanjikan bahwa cadangan ini akan menjadi tameng saat kemarau menghantam. Tapi pertanyaannya, apakah tameng itu cukup kuat menahan gejolak distribusi, spekulasi harga, dan persoalan klasik tata niaga?
Atau, seperti tahun-tahun sebelumnya, kesiapsiagaan hanya berhenti di meja konferensi pers, sementara masyarakat kembali diminta bersabar menghadapi “musim sulit” yang selalu datang dengan cerita lama?*****
Sumber: Badan Pangan Nasional (Bapanas), BRIN

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










