Menariknya, seluruh target disebut berasal dari pendekatan “top down” dari provinsi. Artinya, daerah lebih banyak menerima angka jadi ketimbang menyusun sendiri berdasarkan kondisi real.
Hal ini menimbulkan kesan bahwa capaian daerah bukan hanya soal kerja lapangan, tapi juga soal seberapa selaras dengan angka yang sudah ditentukan dari atas.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan tren positif. Angka-angka bergerak naik, target terlampaui, dan narasi pembangunan berjalan sesuai rencana.
Namun dalam bahasa satir yang sederhana: grafik boleh menanjak, tapi yang paling jujur tetap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Jika udara masih terasa berat, harga masih terasa naik, dan kesejahteraan masih terasa jauh, maka capaian makro seindah apa pun tampilannya akan selalu menyisakan satu pertanyaan:
Ini kemajuan yang dirasakan, atau sekadar yang dilaporkan?*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










