Nanik menjelaskan, makanan yang tidak dalam kondisi segar berpotensi besar memicu gangguan kesehatan. “Jeda waktu yang terlalu lama antara memasak dan konsumsi bisa menurunkan kualitas makanan,” ujarnya.
BGN pun menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut, sembari memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung. Operasional dapur terkait juga langsung dihentikan.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut seluruh korban diduga mengonsumsi makanan dari satu dapur yang sama, yakni SPPG Pondok Kelapa 2. Ia bahkan mengindikasikan menu spageti sebagai salah satu penyebab utama.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa program besar tidak cukup hanya dengan niat baik dan menu menarik. Infrastruktur dasar seperti dapur yang layak dan sistem pengolahan limbah bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama.
Secara satir, publik mungkin bertanya: bagaimana mungkin program “makan bergizi” justru berujung pada antrean pasien?
BGN menyatakan akan memperketat pengawasan ke depan guna memastikan keamanan pangan dalam program MBG. Namun, pekerjaan rumahnya jelas: memastikan standar tidak hanya tertulis di dokumen, tapi benar-benar hadir di dapur.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










