Pernyataan itu terdengar lebih seperti promosi dagang daripada strategi geopolitik, seolah konflik global bisa diselesaikan dengan logika pasar bebas.
Sementara itu, kondisi di lapangan jauh dari kata sederhana. Sejak serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari, kawasan Timur Tengah berubah menjadi titik panas baru. Ribuan korban jiwa berjatuhan, termasuk tokoh penting Iran, dan serangan balasan terus terjadi ke berbagai wilayah, termasuk negara-negara Teluk.
Iran sendiri tidak tinggal diam. Serangan drone dan rudal dilancarkan sebagai balasan, sementara pembatasan aliran energi di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Efeknya langsung terasa: ekonomi global ikut tersandera.
Situasi ini memperlihatkan ironi yang makin jelas, di satu sisi dunia ingin stabilitas energi, di sisi lain justru mempertahankan konflik yang memperparah krisis.
Perpecahan di Dewan Keamanan PBB pun semakin terang benderang. Satu kubu menahan diri dari eskalasi militer, sementara kubu lain tetap melaju dengan strategi konfrontasi. Hasilnya? Dunia terjebak di antara kepentingan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi. minyaknya semua butuh, tapi caranya masih ribut.
Sumber: New York Times

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










