Namun ironi tak berhenti di situ. Selain potensi kecurangan, Abdul Mu’ti juga menyoroti perilaku pengawas yang kerap mengintimidasi siswa. Alih-alih menciptakan suasana kondusif, sebagian pengawas justru membuat ruang ujian terasa seperti ruang interogasi.
“Jangan menakut-nakuti anak-anak,” tegasnya.
Pada hari pertama pelaksanaan TKA, siswa SMP mengerjakan 30 soal Matematika dan numerasi dalam waktu 75 menit, dilanjutkan dengan survei karakter selama 20 menit. Sebuah rangkaian ujian yang idealnya mengukur kemampuan dan kepribadian, bukan ketahanan mental menghadapi pengawas.
Dengan peringatan keras ini, pemerintah seolah ingin memastikan bahwa yang diuji adalah siswa, bukan integritas sistem itu sendiri. Meski, seperti yang sering terjadi, tantangan terbesar justru bukan pada soal ujian, melainkan pada mereka yang berdiri di balik meja pengawas.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










