Angka tersebut masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan pemerintah, yakni maksimal 4 persen. Dengan kata lain, negara memang sedang “tekor”, tetapi bukan berarti “bangkrut dalam dua minggu” seperti yang dirumorkan.
Fenomena ini seolah menjadi potret klasik birokrasi ketika data berbicara rasional, rumor justru berlari lebih kencang. Di satu sisi, pemerintah sibuk menghitung skenario krisis global; di sisi lain, ada yang sibuk menghitung hari menuju “kiamat APBN”.
Padahal, jika benar APBN hanya cukup dua pekan, mungkin yang lebih dulu habis bukan anggaran melainkan kepercayaan publik.
Purbaya menegaskan bahwa seluruh kebijakan fiskal telah dirancang berdasarkan arahan Presiden dan perhitungan matang lintas sektor. Ia meminta masyarakat tidak mudah terpancing isu yang tidak berdasar, terlebih jika sumbernya justru berasal dari “orang dalam” yang seharusnya memahami situasi.
Dengan demikian, di tengah ancaman krisis global, pemerintah memastikan satu hal: APBN memang defisit, tetapi bukan berarti sedang menunggu detik-detik terakhir seperti baterai ponsel 1 persen.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










