Trump juga mengklaim puluhan pesawat bersenjata berat dikerahkan untuk misi ini. Sebuah pengerahan kekuatan yang, jika dilihat sekilas, lebih mirip operasi militer skala kecil daripada sekadar evakuasi satu orang.
Namun di sisi lain, Iran memiliki narasi berbeda. Militer Iran mengklaim berhasil menggagalkan sebagian operasi tersebut, bahkan menyebut beberapa pesawat AS termasuk C-130 dan helikopter Black Hawk dihancurkan dalam prosesnya.
Juru bicara militer Iran menyebut operasi itu sebagai “kegagalan memalukan”, meski pada akhirnya AS tetap berhasil mengevakuasi awaknya. Sebuah ironi perang modern: kedua pihak bisa sama-sama mengklaim kemenangan, tergantung sudut pandang.
Di kalangan militer AS, kerugian tersebut justru dianggap sebagai “harga yang wajar”. Mantan pejabat militer menyatakan bahwa kehilangan pesawat adalah risiko yang bisa diterima demi menjaga prinsip lama: tidak meninggalkan prajurit di medan perang.
Sebuah prinsip yang terdengar heroik meski dalam praktiknya satu nyawa diselamatkan dengan biaya beberapa aset militer bernilai jutaan dolar.
Operasi akhirnya dinyatakan selesai pada Minggu (5/4), ketika awak yang terluka diterbangkan ke wilayah aman untuk mendapatkan perawatan medis. Identitasnya masih dirahasiakan, mungkin untuk menjaga fokus tetap pada narasi keberhasilan.
Namun di balik klaim sukses tersebut, analis mulai menyoroti fakta bahwa jatuhnya F-15 di wilayah Iran dan kerugian tambahan dalam misi penyelamatan menunjukkan celah dalam dominasi udara AS, sesuatu yang jarang diakui secara terbuka.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










