LOCUSonline, BEKASI – Hari pertama pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP gelombang pertama menghadirkan ironi yang nyaris seperti naskah satire yang diawasi relatif tertib, sementara yang mengawasi justru sibuk mencari sudut kamera terbaik.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, mengungkapkan terdapat 13 pelanggaran selama pelaksanaan ujian. Dari jumlah tersebut, 12 dilakukan oleh pengawas, sedangkan siswa hanya mencatat satu pelanggaran.
“Pengawas sebanyak 12 pelanggaran, oleh siswa 1 pelanggaran,” ujar Rahmawati dalam Taklimat TKA di Bekasi, Selasa (7/4/2026).
Meski angka pelanggaran cukup mencolok, Rahmawati memastikan tidak ada indikasi kebocoran soal. Tidak ditemukan tangkapan layar dari komputer ujian yang beredar di publik. Dengan kata lain, soal tetap aman yang bocor justru perhatian pengawas.
Alih-alih membocorkan materi ujian, pelanggaran yang terjadi lebih bersifat “kreatif”, yakni melakukan siaran langsung di media sosial. Para pengawas, menurut Rahmawati, tampak lebih tertarik menunjukkan eksistensi mereka di ruang ujian ketimbang memastikan peserta tetap fokus.
“Live streaming-nya tidak mengarah ke layar komputer. Lebih kepada menunjukkan situasi sedang mengawasi TKA,” jelasnya.
Fenomena ini menggambarkan pergeseran fungsi pengawasan dari menjaga ketertiban menjadi konten real-time. Ruang ujian pun seolah berubah menjadi studio dadakan minus alasan yang masuk akal.
Di sisi lain, Kemendikdasmen juga menemukan tautan di media sosial yang menawarkan bocoran soal TKA. Namun setelah ditelusuri, konten tersebut tidak berasal dari sistem ujian, melainkan sekadar hasil “rekonstruksi ingatan” peserta.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










