Di sisi fiskal, penerimaan pajak dan belanja negara disebut tetap menunjukkan tren positif. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dijaga di bawah batas aman 3 persen sebuah angka yang sering disebut stabil, meski cara mencapainya kadang butuh akrobat anggaran.
“Belanja subsidi naik, tapi kita kelola agar belanja lain lebih efisien namun tetap efektif,” jelas Juda.
Dengan kata lain, ketika subsidi membengkak, pos lain diminta lebih hemat, sebuah logika rumah tangga yang kini diterapkan dalam skala negara.
Juda menegaskan, seluruh kebijakan fiskal yang diambil telah melalui perhitungan detail. Ia juga menekankan pentingnya adaptasi, koordinasi, dan komunikasi yang konsisten di tengah ketidakpastian global yang sulit diprediksi.
“Semua ini berdasarkan perhitungan. Komunikasi harus terus kita lakukan dari hari ke hari,” katanya.
Di tengah situasi global yang penuh tekanan, pemerintah tampaknya ingin menyampaikan satu pesan sederhana: ekonomi mungkin sedang diuji, tetapi setidaknya harga BBM subsidi masih dijaga agar tidak ikut membuat panik.
Sebab dalam realitas sehari-hari, stabilitas ekonomi sering kali tidak diukur dari grafik makro melainkan dari apakah harga di pom bensin masih terasa “wajar” di kantong masyarakat.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










