LOCUSonline, JAKARTA – Di tengah dunia yang sibuk berdebat soal perang, energi, dan krisis pangan global, Indonesia memilih fokus pada satu hal paling mendasar: memastikan nasi tetap mengepul di meja makan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) nasional kini mencapai 4,6 juta ton, angka yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
“Per 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton. Kemarin 4,5 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Amran, Selasa (7/4/2026).
Kenaikan stok ini datang di saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik geopolitik dan ancaman perubahan iklim seperti El Nino membuat banyak negara mulai gelisah soal ketersediaan pangan. Namun pemerintah Indonesia tampaknya ingin memastikan publik tetap tenang, setidaknya untuk urusan nasi.
Menurut Amran, cadangan beras tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama 10 hingga 11 bulan ke depan. Dengan kata lain, bahkan jika cuaca berubah menjadi ekstrem dan dunia semakin tak menentu, dapur domestik diharapkan tetap berasap.
“Kondisi stok beras nasional dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan. El Nino diperkirakan enam bulan, jadi insya Allah pangan kita aman,” katanya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam hierarki kebutuhan, pangan masih menjadi fondasi utama. Bagi pemerintah, beras bukan sekadar komoditas, melainkan simbol stabilitas atau dalam bahasa sederhana: selama nasi masih ada, kegaduhan bisa sedikit diredam.
Amran juga menyinggung situasi global yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 724 juta penduduk dunia saat ini mengalami kelaparan akibat konflik dan perubahan iklim. Bahkan, konflik di Timur Tengah disebut berpotensi memperparah krisis dengan risiko kelaparan serius bagi puluhan juta orang.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










