LOCUSonline, GARUT – Drama geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak yang seperti biasa penuh ironi, gencatan senjata diumumkan, tapi pelanggaran sudah lebih dulu hadir, bahkan sebelum tinta kesepakatan sempat mengering.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuding Washington telah melanggar tiga poin penting dari proposal damai yang diajukan Teheran. Menariknya, pelanggaran itu disebut terjadi bahkan sebelum negosiasi benar-benar dimulai, sebuah prestasi diplomatik yang mungkin sulit ditandingi.
“Ketidakpercayaan historis kami terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang terhadap komitmen,” ujar Ghalibaf dalam pernyataannya, Rabu (8/4/2026).
Alih-alih menjadi jeda konflik, gencatan senjata justru dipertanyakan validitasnya. Ghalibaf menyebut dasar negosiasi sudah “dirusak dari awal”, sehingga kesepakatan damai terkesan seperti formalitas tanpa fondasi.
Salah satu poin yang dipersoalkan adalah cakupan wilayah gencatan senjata yang seharusnya mencakup Lebanon, hal yang juga disampaikan oleh mediator dari Pakistan, Shehbaz Sharif.
Namun di lapangan, laporan mengenai drone yang masih melintas di wilayah udara Iran menjadi bukti bahwa “gencatan” tampaknya hanya berlaku di atas kertas, bukan di langit.
Iran juga menyoroti sikap Washington yang tetap menolak hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium salah satu poin utama dalam proposal damai.
Di sisi lain, Gedung Putih melalui Presiden Donald Trump justru menegaskan bahwa penghentian total program tersebut tetap menjadi “garis merah”.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










