Situasi ini membuat negosiasi tampak seperti dua pihak yang sepakat untuk berdamai selama definisi damainya versi masing-masing.
Menariknya, kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan. Iran merasa berhasil karena proposal 10 poinnya diterima sebagai dasar negosiasi. Sementara Trump menyatakan keberhasilan karena tujuan militer AS disebut telah “terlampaui”.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” ujar Trump, sebuah pernyataan optimistis di tengah realitas yang tampaknya masih satu arah: konflik tetap berjalan, hanya narasinya yang berubah.
Kesepakatan ini juga melibatkan pembukaan Selat Hormuz oleh Iran sebagai bagian dari kompromi. Sebagai imbalannya, AS menunda serangan lanjutan selama dua pekan.
Namun, dengan pelanggaran yang sudah terjadi bahkan sebelum negosiasi dimulai, publik internasional kini dihadapkan pada pertanyaan klasik: apakah ini langkah menuju damai, atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya?
Dalam lanskap geopolitik modern, gencatan senjata tampaknya bukan lagi soal menghentikan konflik, melainkan soal siapa yang lebih cepat mengklaim kemenangan.
Dan seperti biasa, ketika dua kekuatan besar saling bernegosiasi, dunia hanya bisa menyaksikan sambil berharap bahwa “damai” kali ini bukan sekadar istilah yang kehilangan makna.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










