Pernyataan tersebut sontak memicu spekulasi publik, mulai dari asumsi pemborosan anggaran hingga dugaan proyek besar-besaran.
Padahal, menurut BGN, jumlah sebenarnya jauh lebih kecil dan masih dalam tahap distribusi bertahap sejak Desember 2025.
Program MBG sendiri dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama melalui distribusi makanan bergizi. Namun dalam kasus ini, yang perlu diperbaiki bukan hanya asupan makanan, tapi juga “asupan informasi”.
Dadan pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Sebab di era digital, angka bisa membesar lebih cepat daripada realisasi anggaran.
Kisah ini menjadi contoh klasik: sebuah kebijakan serius bisa berubah menjadi bahan spekulasi massal hanya karena satu video dan sedikit imajinasi.
Di satu sisi, pemerintah sibuk memastikan distribusi gizi berjalan lancar. Di sisi lain, publik sibuk menghitung jumlah motor di gudang dengan hasil yang kadang lebih kreatif daripada akurat.
Yang pasti, hingga kini belum ada konvoi 70 ribu motor listrik di jalanan. Yang ada baru satu hal yaitu pelajaran, bahwa di era media sosial klarifikasi sering datang setelah cerita telanjur berlari lebih kencang.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










