ArtikelDaerahGarutHukumJawa BaratNewsPendidikanSorot

Setelah Siswa Gantung Diri, Baru Tim Turun Tangan: Sekolah Aman Versi Siaran Pers

bhegins
×

Setelah Siswa Gantung Diri, Baru Tim Turun Tangan: Sekolah Aman Versi Siaran Pers

Sebarkan artikel ini
Setelah Siswa Gantung Diri, Baru Tim Turun Tangan: Sekolah Aman Versi Siaran Pers
Ilustrasi
tempat.co

LOCUSONLINE, GARUT — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akhirnya bereaksi atas tewasnya seorang siswa SMA Negeri di Kabupaten Garut yang diduga korban perundungan. Namun, reaksi ini datang bukan untuk mencegah, melainkan setelah nyawa melayang—seperti biasa, saat narasi duka sudah viral dan suasana sudah sunyi.

Wakil Menteri Pendidikan, Fajar Riza Ul Haq, hadir di Garut dan menyatakan bahwa kementeriannya menurunkan tim investigasi, termasuk dari Inspektorat Jenderal. Mereka akan menelaah kasus ini secara “utuh”—meskipun nyawa korban tak bisa dikembalikan dan luka keluarga terlanjur menganga.

“Kami sudah melakukan takziah, menyampaikan belasungkawa, dan membawa tim dari Inspektorat Jenderal,” kata Fajar, seperti hendak menegaskan bahwa kedatangan pemerintah bukan tanpa protokol dan seremonial.

Yang tak kalah menarik, Fajar juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi efektivitas Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Sayangnya, evaluasi ini dilakukan setelah korban gantung diri, bukan ketika tanda-tanda perundungan mencuat atau saat nilai rapor korban dipermasalahkan sekolah.

Siswa kelas X yang tak naik kelas ini diduga menjadi sasaran tekanan, baik akademik maupun sosial. Namun pihak sekolah justru fokus menyampaikan bahwa siswa tersebut “tidak tuntas tujuh mata pelajaran”, seolah nilai akademik jadi pembenaran atas peristiwa tragis.

“Kami sedang mengevaluasi TPPK,” ujar Fajar lagi, dalam nada birokratis yang tak menjawab pertanyaan: ke mana tim ini saat korban masih hidup?

Pernyataan penuh empati pun diluncurkan: sekolah harus menjadi tempat yang “nyaman, aman, tanpa kekerasan”. Kalimat yang sudah lama jadi mantra kosong dalam setiap pidato pejabat pendidikan, namun selalu tak terbukti ketika kasus nyata muncul.

“Kami minta sekolah ikut prinsip bahwa sekolah itu tempat aman, tidak ada bully,” katanya, meski fakta di lapangan—dan laporan media sosial—menunjukkan sebaliknya.

Kasus ini sebelumnya telah ditangani polisi, yang menyebut tak ditemukan tanda kekerasan fisik dan menyimpulkan sementara bahwa siswa meninggal karena gantung diri. Tapi dugaan perundungan yang viral di media sosial tetap menggema, apalagi pihak sekolah buru-buru membantah, tanpa refleksi atau pengakuan tanggung jawab moral.

zonaintegritaspdamtirtaintankabupatenGarut_8001
zonaintegritaspdamtirtaintankabupatenGarut_8004
zonaintegritaspdamtirtaintankabupatenGarut_8005
zonaintegritaspdamtirtaintankabupatenGarut_8002
zonaintegritaspdamtirtaintankabupatenGarut_8003
previous arrow
next arrow

Bergabunglah dengan Tim Jurnalis Kami!

Apakah kamu memiliki passion dalam menulis dan melaporkan berita? Inilah kesempatan emas untuk bergabung dengan situs berita terkemuka kami! Locusonline mencari wartawan berbakat yang siap untuk mengeksplorasi, melaporkan, dan menyampaikan berita terkini dengan akurat dan menarik.

Daftar

🔗 Tunggu apa lagi!

Daftar sekarang dan jadilah bagian dari tim kami!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner-amdk-tirta-intan_3_2
banner-amdk-tirta-intan_3_3
banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow