LOCUSONLINE, GARUT – Di Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong tempat di mana mimpi-mimpi ekonomi desa diracik dalam gelas musyawarah, Musdesus (Musyawarah Desa Khusus) digelar bak resepsi harapan, Kamis (24/07/2025). Semua elemen diundang: dari tokoh masyarakat, kader desa, hingga para pejabat lokal yang biasanya lebih akrab dengan absensi ketimbang aksi. Tujuannya mulia katanya mengoptimalkan potensi desa. Tapi seperti biasa, optimisme tak selalu berbanding lurus dengan realisme.
Koperasi Merah Putih menjadi bintang utama. Solehudin, sang Ketua Koperasi, berpidato penuh semangat mengajak semua warga termasuk perangkat desa yang kerap ‘sibuk’—untuk ikut serta menjadi anggota koperasi. Manfaatnya? Harga murah dan janji SHU di akhir tahun. Rapat Akhir Tahun (RAT) dijanjikan jadi pesta pembagian berkah. Tapi pengalaman di berbagai desa menunjukkan, kadang yang dibagi bukan hasil usaha, melainkan hasil retorika.
“Kalau anggotanya banyak, koperasi kita akan besar,” ujar Solehudin. Pernyataan yang terdengar seperti mantra klasik: seolah-olah jumlah saja cukup, meskipun tanpa transparansi, akuntabilitas, apalagi rekam jejak.
Solehudin juga menyelipkan agenda nasionalisme ekonomis. Menyambut Hari Ulang Tahun RI ke-80, koperasi akan berkolaborasi dengan Karang Taruna. “Setiap RT harus galakkan lomba,” serunya, seolah lomba-lomba itu mujarab menyembuhkan stagnasi ekonomi warga. Semangat lomba, katanya, bisa jadi bensin gotong royong. Tapi seperti halnya api unggun tujuh belasan, semua semangat itu seringkali padam secepat korek dinyalakan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”