ArtikelDaerahJawa BaratNewsPemerintahPolitikPurwakarta

Pelantikan Pejabat Purwakarta: Dari Kebun Istimewa ke Realita yang Tak Biasa

bhegins
×

Pelantikan Pejabat Purwakarta: Dari Kebun Istimewa ke Realita yang Tak Biasa

Sebarkan artikel ini
Pelntikan pejabat purwakarta
Pelantikan 10 orang pejabat eselon ll oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, di Kebun Istimewa, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, bersamaan dengan agenda Pelayanan Publik, Selasa (23/9/2025). dok. Istimewa

“Kini giliran para pejabat yang baru dilantik membuktikan: apakah mereka hanya sekadar menikmati kebun istimewa atau siap turun ke tanah berlumpur bersama rakyatnya.”

LOCUSONLINE, PURWAKARTA – Sepuluh pejabat eselon II resmi dilantik Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein, Selasa (23/9/2025). Uniknya, prosesi pengukuhan tidak dilakukan di aula ber-AC, melainkan di Kebun Istimewa Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes. Lokasi sejuk, pemandangan indah, seolah ingin menegaskan bahwa birokrasi Purwakarta kini lahir dari rahim alam.

tempat.co

Nama-nama baru mengisi kursi strategis: mulai dari Dinas Kesehatan hingga Kominfo. Publik tentu berharap mereka bukan hanya sibuk menandatangani surat, tapi juga punya nyali turun ke lapangan tempat di mana rakyat masih harus gali lobang tutup lobang untuk makan sehari-hari.

Ironinya, di tengah prosesi penuh doa dan janji integritas itu, masih banyak cerita pilu seperti Nurjanah, ibu rumah tangga Purwakarta yang terpaksa jadi pekerja migran di Irak demi melunasi utang. Nur bukan pejabat yang dilantik, tapi ia tahu benar arti “tugas berat”: memasak, mencuci, mengasuh, bahkan menelan ludah secara harfiah dari majikan kasar. Sementara pejabat baru cukup menelan sumpah jabatan.

Baca Juga : Bupati Garut: Pohon Ditanam, Citra Dipanen, Kukang Jawa Diselamatkan, Warga Tetap Jadi Menjerit

Seremoni pelantikan di Kebun Istimewa seharusnya jadi simbol kerendahan hati birokrasi. Tapi publik kerap melihatnya hanya sebagai pesta tanda tangan massal, penuh janji manis yang sering kali lebih cepat layu daripada bunga di kebun itu sendiri.

Warga menunggu bukti, bukan sekadar spanduk. Mereka tidak butuh pidato tentang integritas jika di loket pelayanan masih harus bayar “uang rokok” untuk percepat proses. Mereka juga tak terhibur oleh wacana “Indonesia Emas 2045” kalau hari ini saja beras harus dibeli dengan utang.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow