“Publik hanya bisa berharap, jalan keluar yang dimaksud bukan jalan keluar darurat menuju IGD, baik karena nasi basi maupun demokrasi yang makin terasa getir. Jika ribuan pelajar keracunan MBG butuh cairan infus untuk pulih, maka demokrasi kita tampaknya butuh cairan kejujuran. Sayangnya, cairan itu tidak tersedia di dapur MBG, apalagi di laci Biro Pers”
LOCUSONLINE, JAKARTA – Tragedi ribuan pelajar yang keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah belum juga dicerna tuntas, tapi kini publik disuguhi drama baru: pencabutan kartu liputan Istana jurnalis CNN Indonesia, Diana Valencia, setelah ia menanyakan persoalan yang sama pentingnya kenapa program triliunan rupiah itu justru bikin perut rakyat mual massal.
Kasus ini seakan menunjukkan, di republik ini bukan cuma nasi basi yang bisa bikin sakit, pertanyaan wartawan pun ternyata bisa membuat akses basi.
Hingga Jumat (26/9/2025), lebih dari 1.333 siswa di Bandung Barat dan 657 siswa di Garut dinyatakan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Sejumlah daerah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB), sementara seruan dari masyarakat sipil agar program ini dievaluasi total bahkan dihentikan sementara masih belum ditelan bulat-bulat oleh pemerintah.
Ironisnya, alih-alih fokus pada nasi dan lauk yang basi, perhatian publik kini justru bergeser ke kartu identitas pers yang mendadak ditarik paksa oleh Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden.
Pemimpin Redaksi CNN Indonesia, Titin Rosmasari, mengonfirmasi bahwa kartu liputan Diana diambil langsung dari kantor CNN Indonesia, Sabtu (27/9) malam. Pertanyaan Diana soal MBG kepada Presiden Prabowo sepulang lawatan luar negeri diduga menjadi pemicu.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










