LOCUSONLINE, PURWAKARTA – Pujian deras mengalir di jalan mulus Cijantung–Parakanlima, Purwakarta. Dari tukang ojeg hingga anggota dewan, semua sepakat: proyek Rp2,3 miliar ini “istimewa”. Jalan licin bak kulit bayi begitu kata warga dianggap sebagai bukti keseriusan pemerintah daerah membangun Purwakarta yang “lebih istimewa”. Namun, di balik senyum-senyum syahdu peresmian lapangan, ada sejumlah catatan yang perlu ditelisik lebih jauh.
Yayan (51), penarik ojeg sejak 2011, adalah salah satu yang paling vokal memuji. Ia mengaku “mulus semulus rezeki”. Namun, di sinilah cerita mulai menggelitik. Proyek yang disebut transparan karena pengerjaannya dilakukan siang hari itu menelan anggaran Rp2,335 miliar, dikerjakan oleh CV Pajar Anugrah, dan mengandalkan tenaga warga sekitar untuk mengangkut aspal. Seolah semua berjalan rapi, tanpa cacat.
Pertanyaannya: mengapa proyek yang diklaim transparan justru minim informasi teknis sejak awal? Tidak banyak dokumen yang dibuka ke publik selain RAB global yang dibacakan sebatas angka.
Asep Abdulloh, anggota DPRD setempat, ikut memuji. Ia menyampaikan harapan agar jalan ini meningkatkan perekonomian warga dan mengimbau jangan ngebut. Pernyataan standar pejabat, tapi tidak menyentuh titik kritis: apakah proses tender dilakukan sesuai prosedur? Bagaimana rekam jejak kontraktor? Berapa lama masa garansi jalan? Semua hilang dalam euforia “jalannya cakep pisan”.
Proyek sepanjang 2.750 meter dan lebar 3,5 meter dengan hotmix AC-WC ini disebut “dipantau ketat”. Ada TNI, Polri, desa, konsultan, DPUTR, tokoh masyarakat, warga, bahkan “Pak Dewan” nongol. Namun, pemantauan intensif tidak otomatis menjamin kualitas. Apalagi, pola pembangunan hotmix siang hari sering kali jadi gimmick “transparansi” tanpa membuka data kontrak dan item pekerjaan secara rinci.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










