LOCUSONLINE, GARUT – Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kabupaten Garut kembali menggelar ritual tahunan: rapat besar penuh istilah teknis, foto formal, dan janji manis tentang “kelancaran arus lalu lintas”. Forum Lalulintas Kabupaten Garut berkumpul di Aula Dishub, membahas rencana yang seperti biasa kedengarannya rapi, tapi nasibnya sering kalah oleh kenyataan di lapangan: macet, klakson, dan parkir liar.
Sekretaris Daerah Garut, Nurdin Yana, tampil sebagai juru bicara keoptimisan. Dengan nada formal khas birokrasi, ia menyebut rapat ini “penting”, terutama untuk memastikan pelayanan terbaik kepada masyarakat selama Nataru. Pernyataan yang setiap tahun terdengar identik, hanya tanggalnya yang ganti.
Nurdin memaparkan tiga fokus utama: keamanan ibadah di tujuh gereja, kesiapan sarana prasarana lalu lintas, dan kesigapan personel pengamanan. Paket lengkap, terdengar meyakinkan. Tapi publik tentu masih ingat tahun lalu saja, spanduk “Selamat Nataru” sudah ramai terpasang, tetapi rambu-rambu darurat malah dipasang setelah kemacetan menumpuk.
Polres Garut disebut sudah “siap”. Kata yang selalu muncul sebelum libur panjang, tapi jarang disertai parameter yang jelas. Siap berapa personel? Siap di titik mana? Siap menghadapi pedagang musiman yang tiba-tiba menguasai bahu jalan? Atau siap melihat arus kendaraan merayap sambil berharap cuaca cukup baik?
Sinergitas juga kembali diklaim sebagai kunci. Nurdin menegaskan bahwa Pemda, Polres, dan UPT Provinsi sudah kompak. Publik tentu boleh optimis walau selama ini, sinergi itu sering baru terlihat ketika terjadi kemacetan parah dan setiap instansi sibuk menyalahkan instansi lain.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










