LOCUSOLINE, GARUT – Di sebuah ruangan sederhana di Desa Sukamanah, Kecamatan Malangbong, aroma masakan bergizi menyeruak dari panci-panci besar yang baru diresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Acara launching makanan uji coba untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu berlangsung pada Jumat, 28 November 2025, dihadiri Forkopimcam, tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga sebagian penerima manfaat. Namun di balik suasana syukuran itu, tersimpan sejumlah persoalan yang luput dari sorotan publik.
Program MBG yang dicanangkan pemerintah pusat memang menjanjikan makanan gratis untuk ribuan warga desa. Berdasarkan data Dapodik, SPPG Sukamanah ditargetkan mendistribusikan lebih dari 2.000 porsi per hari. Angka yang besar ini tidak hanya membuka ruang manfaat, tetapi juga peluang bisnis mulai dari penyedia bahan baku, tenaga kerja, hingga jasa dapur pengolahan.
Kepala Desa Sukamanah, Aten Sulaeman, mengatakan kepada Locusoline bahwa pihaknya mengapresiasi pendirian SPPG ini. Ia menekankan pentingnya pengelolaan sesuai prosedur teknis dan disiplin dalam penanganan limbah.
“Kami ikut melakukan kontrol sosial, termasuk bersama rekan-rekan jurnalis. Kami ingin pengelolaan dapur ini berjalan transparan,” ujarnya.
Namun penelusuran di lapangan menunjukkan sejumlah celah. Sumber internal SPPG yang enggan disebutkan namanya mengaku persiapan dapur masih belum sepenuhnya memenuhi standar. Dari pengadaan alat masak, sertifikasi tenaga kerja, hingga sistem distribusi makanan sebagian masih dirampungkan hanya beberapa hari menjelang distribusi perdana.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










