[Locusonline.co] Di tengah libur akhir tahun, sebuah tragedi mengerikan kembali merenggut nyawa di aliran Sungai Cimanuk, Garut. Seorang pemuda berinisial BRH (24) ditemukan tewas tenggelam pada Senin, 29 Desember 2025, setelah nekat berenang menyeberangi sungai untuk mengambil biawak yang baru ditembaknya. Peristiwa ini menjadi catatan kelam terbaru dalam riwayat panjang insiden serupa di sungai yang dikenal berarus deras ini.
Korban yang merupakan warga Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, tewas dalam sebuah pencarian biawak yang berujung petaka. Menurut laporan polisi, korban bersama rekannya, Galih (28), tengah berburu di pinggiran Sungai Cimanuk di Kampung Babakan Cimanuk, Desa Cibatu. Sekitar pukul 12.00 WIB, BRH melihat seekor biawak di seberang sungai dan langsung menembaknya menggunakan senapan angin.
Kronologi Maut: Ketika Naluri Berburu Mengalahkan Keselamatan
Hasil tembakan yang akurat justru menjadi awal petaka. Ingin mengambil hasil buruannya, BRH memutuskan untuk berenang menyeberangi Sungai Cimanuk yang memiliki lebar sekitar 40 meter di lokasi tersebut. Menurut keterangan saksi Galih, saat berada di tengah sungai, korban diduga kelelahan dan langsung tenggelam diterjang arus yang deras.
Bahkan, upaya penyelamatan dari rekannya pun tak berhasil. “Saya sudah berupaya menolong BRH… Saya tak berhasil menyelamatkan BRH, karena derasnya air Sungai Cimanuk,” ujar Galih yang juga mengalami luka-luka saat berusaha membantu. Arus sungai yang keruh dan kuat menjadi tantangan utama bagi semua upaya penyelamatan pada saat itu.
Operasi SAR Intensif dan Penemuan Korban
Mendapatkan laporan dari saksi, aparat Polsek Cibatu segera bergerak cepat dan berkoordinasi dengan tim SAR gabungan. Operasi pencarian yang melibatkan Basarnas Garut, BPBD, dan Satbrimob Polda Jabar segera dimulai. Tim SAR menerjunkan 15 personel dan menggunakan berbagai metode, dari penyusuran tepi sungai hingga penggunaan perahu karet untuk menyisir area yang sulit dijangkau.
Setelah pencarian selama beberapa jam, sekitar pukul 16.30 WIB, tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan jasad korban sekitar 20 meter dari lokasi awal kejadian. Korban dievakuasi dalam keadaan sudah meninggal dunia dan dibawa ke Puskesmas Cibatu untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut. Kapolsek Cibatu, Iptu Amirudin Latif, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlanjut, termasuk mengamankan saksi dan senjata angin yang digunakan.
Sungai Cimanuk: Riwayat Panjang Arus yang Mematikan
Tragedi ini bukan yang pertama dan sayangnya, mungkin bukan yang terakhir di Sungai Cimanuk. Data menunjukkan sungai ini telah berkali-kali merenggut nyawa dengan modus kejadian yang serupa:
Insiden Tenggelam di Sungai Cimanuk GarutTanggal Kejadian Korban Aktivitas Awal Keterangan 29 Des 2025 BRH (24), warga Bandung Berburu biawak Tewas, ditemukan hari yang sama 2-4 Jun 2023 DH (45), warga Karangpawitan Tidak disebutkan Tewas, ditemukan 2 hari setelah hanyut 21-23 Mar 2018 Adit (22), warga Garut Kota Berenang Hilang, belum ditemukan hingga hari ketiga pencarian 22 Agu 2017 Fajar & Riki (18, 19), warga Bandung Berenang Dua orang hilang, masih dalam pencarian saat berita dirilis
Kasus pada 2018 bahkan menunjukkan betapa berbahayanya sungai ini, di mana seorang korban yang tenggelam di kawasan Bendungan Copong belum ditemukan setelah tiga hari pencarian yang diperluas hingga ke wilayah Waduk Jatigede di Sumedang. Data-data ini membuktikan bahwa arus Sungai Cimanuk sering kali lebih kuat dari yang diperkirakan, bahkan oleh warga lokal sekalipun.
Imbauan dan Peringatan Keselamatan dari Aparat
Menanggapi peristiwa ini, Kapolsek Cibatu mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat. “Pihak kepolisian dan tim SAR mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas berisiko di sekitar aliran sungai, terutama saat debit air meningkat dan arus sungai deras,” tegas Iptu Dody Rusmiady dari Satbrimob yang terlibat dalam pencarian. Imbauan serupa disampaikan langsung oleh Kapolsek Cibatu, Amirudin Latif, yang meminta masyarakat lebih berhati-hati.
Sementara itu, trauma mendalam dirasakan oleh rekan korban, Galih. Ia mengaku kejadian tersebut benar-benar di luar dugaan meski mereka sudah cukup mengenal karakter Sungai Cimanuk yang dikenal deras dan berputar. Galih bahkan menyatakan keputusannya untuk berhenti berburu biawak di sungai tersebut, sebuah penyesalan yang datang terlalu terlambat untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya.
Refleksi: Mengutamakan Nyawa di Atas Segalanya
Tragedi meninggalnya BRH di Sungai Cimanuk adalah pengingat pahit tentang pentingnya keselamatan diri. Naluri untuk mengambil hasil buruan telah mengalahkan pertimbangan akan bahaya arus deras sungai yang mematikan. Masyarakat diingatkan untuk tidak pernah meremehkan kekuatan alam, sekalipun di lokasi yang dianggap sudah familiar. Keselamatan beraktivitas di sungai harus selalu menjadi prioritas utama, mengingat riwayat panjang Sungai Cimanuk yang telah banyak meminta korban jiwa. (**)














