“Hujan ekstrem jadi pemicu, tapi usia bangunan adalah bom waktu. Ketika keduanya bertemu, atap sekolah pun memilih menyerah lebih cepat dari jadwal renovasi.”
LOCUSONLINE, GARUT – Atap bangunan SMKN 11 Garut akhirnya angkat tangan. Kamis, 29 Januari 2026, ruang kelas di sekolah yang berada di Kecamatan Cisewu itu roboh, seolah tak lagi sanggup berdamai dengan cuaca ekstrem yang belakangan rajin mengguyur Garut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebut hujan berintensitas tinggi sebagai biang utama. Namun hujan tidak bekerja sendirian. Usia bangunan yang sudah uzur ikut berperan, membuat struktur atap tak kuasa menahan beban material ketika air turun tanpa ampun.
“Hasil asesmen sementara menunjukkan ambruknya atap dipicu hujan deras dengan kondisi fisik bangunan yang kualitasnya sudah menurun karena faktor usia,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Garut, Aah Anwar Saefuloh, di Garut, Sabtu, 31 Januari 2026.
Menurut Aah, dalam beberapa hari terakhir wilayah Garut memang diguyur hujan lebat secara terus-menerus. Situasi ini meningkatkan risiko bencana, terutama pada bangunan yang sudah tak lagi prima. SMKN 11 Garut pun menjadi salah satu yang terdampak.
Baca Juga: Wisata Hijau Dipuji, Sawah Dilindungi Dipersoalkan: Garut di Persimpangan Mawar dan Palu Hukum
Peristiwa robohnya atap di Kampung Cisaninten, Desa Cisewu, itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Namun dampaknya tetap terasa. Tiga ruang kelas tak bisa lagi dipakai, sehingga aktivitas belajar mengajar ikut terganggu.
“Tidak ada korban, tetapi kegiatan sekolah terdampak karena ruang kelas yang ambruk tidak dapat digunakan,” kata Aah.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









