GARUT – Ketua GLPMK (Gerbang Literasi Masyarakat Perjuangkan Keadilan), Bakti Syafaat mengomentari video viral yang berisi tentang pernyataan Wakil Bupati Garut, drg. L Putri Karlina, M.BA.
“Saya melihat dari beberapa video yang berseliweran di media sosial bahwa Wakil Bupati Garut Putri Karlina mengaku gagal karena gaya kepemimpinan dan dibawahnya slow. Putri Karlina juga mengaku walau ada yang sudah ngebut, tetapi tidak sebanding dengan tantangan yang ada di depan,” ujar Bakti Syafaat kepada media, Rabu (25/02/2026).
Menurut penafsiran Bakti, pernyataan Wakil Bupati seakan-akan ditujukan kepada Bupati dan pejabat ASN (Aparatur Sipil Negara) yang bertugas di Pemkab Garut. Jika itu benar, maka Bupati Garut, Abdusyi Syakur Amin harus merasa malu karena dikritik langsung oleh wakilnya langsung.
“Yang memberikan kritikan itu adalah pejabat wakil kepala daerah, bukan RT atau RW. Artinya, orang ini tahu betul kondisi Garut yang sebenarnya. Lalu, apakah Bupati Garut punya rasa malu melihat pernyataan tersebut? Jika gentle seperti Wakil Bupati Garut yang mengakui kegagalannya membangun Garut, maka harus ada evaluasi menyeluruh yang harus dikerjakan kepala daerah. Bupati harus bergerak cepat merubah keadaan,” katanya.

Namun demikian, Bakti juga memberikan pesan menohok kepada Bupati dan Wakil Bupati Garut terkait isu saat Pilkada mendapat dukungan dari mantan koruptor yang duduk di salah satu Partai Politik kelas kakap.
“Saya sebagai masyarakat sejak awal sudah memprediksi kegagalan ini. Jika benar, kedua pasangan ini menang karena campur tangan mantan koruptor, atau ada aliran dana kotor yang berhembus seperti yang beredar di media sosial, maka hasilnya akan seperti ini. Seperti kata Wabup Putri Karlina sendiri yang menegaskan bahwa uang hasil mainan proyek atau jual beli jabatan, maka akan ada sesuatu yang dirinyapun tidak akan mampu menanggung akibatnya,” papar Bakti.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues










