LOCUSONLINE, GARUT – Di panggung geopolitik yang sudah lama dipenuhi retorika keras, ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kini terdengar seperti dentuman drum perang yang membuat kapal-kapal dagang memilih menepi. Lalu lintas pelayaran di salah satu jalur energi paling vital di dunia itu mendadak melambat, seolah para nakhoda paham bahwa ketika politik memanas, laut pun ikut gelisah.
Namun di balik ancaman yang terdengar heroik itu, sejumlah analis justru melihat ironi yang cukup pahit. Melansir berita detikNews. Analis ekonomi energi Dalga Khatinoglu, mengatakan sekitar 70 persen perdagangan nonmigas Iran sendiri bergantung pada pelabuhan yang aksesnya melewati selat tersebut. Dengan kata lain, menutup jalur itu sama saja seperti mengunci pintu rumah dari dalam lalu membuang kuncinya ke laut.
Keraguan serupa juga datang dari pakar energi Sara Vakhshouri. Ia menilai langkah memblokade selat dalam jangka panjang bukan sekadar berisiko, tetapi juga tidak masuk akal secara ekonomi. Iran masih membutuhkan impor barang penting seperti pangan, sementara sebagian besar ekspornya justru menuju pasar Asia seperti China dan India. Menutup jalur pelayaran berarti menutup aliran ekonomi sendiri sebuah strategi yang terdengar lebih seperti sabotase diri daripada balasan geopolitik.
Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Efeknya langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak dan gas melonjak tajam, dan para analis memperkirakan harga minyak bisa menembus 100 dolar AS per barel jika pelayaran di Selat Hormuz benar-benar berubah menjadi zona berbahaya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









