GARUT – Dugaan korupsi BOP (Biaya Operasional Pimpinan) dan Reses Anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Garut periode 2014-2019 kembali menjadi perhatian salah satu organ yang dikenal sangat kritis di Kota Garut, GLMPK (Gerbang Literasi Masyarakat Perjuangkan Keadilan).
Sebelumnya, organisasi ini telah mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Garut terkait diterbitkannya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) dugaan korupsi dana BOP dan Reses Anggota DPRD Kabupaten Garut, periode 2014-2019 oleh Kejari Garut tahun 2024 silam.
Namun hasil praperadilan GLMPK kandas, karena Majelis Hakim Praperadilan, Muhammad Sandi Alayubi tidak mengabulkan permohonan GLMPK.
Namun, salah satu saksi Praperadilan dari pihak Kejari Garut menyatakan bahwa SP3 kasus dugaan korupsi Reses dan BOP DPRD Garut periode 2014-2019 yang diterbitkan Kejari Garut masih koma dan belum titik. Artinya, masih bisa dibuka kembali selama ada bukti-bukti baru.
“GLMPK baru-baru ini mendapatkan Buku Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut Nomor 1 Tahun 2018 tentang Tata Tertib DPRD,” ujar Bakti kepada wartawan, Rabu (11/03/2026).
Berdasarkan keterangan dari Buku Tatib DPRD Garut tersebut, Bakti mencoba mencocokan dengan keterangan dari pihak Kejari Garut yang menerbitkan SP3 kasus dugaan tindak pidana korupsi BOP dan Reses Anggota DPRD Garut periode 2014-2019. Diantaranya tentang ketiadaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan sanksi bagi Anggota DPRD.
“Sebagai masyarakat, kita memiliki hak untuk mengawal semua kasus yang bergulir di lembaga penegak hukum seperti halnya Kejari Garut, salah satunya proses penyidikan kasus dugaan korupsi di DPRD yang akhirnya terbit SP3, dengan alasan kegiatan reses tidak seluruhnya didukung dengan laporan pertanggungjawaban LPJ. Misalnya atas pembelian makanan dan minuman dan sewa tenda/tempat pelaksanaan rapat dalam kegiatan tersebut. Ini statemen Bu Halila selaku Kejari Garut saat itu,” ujar Bakti.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues












