LOCUSONLINE, JOGJAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mengirim sinyal bahaya bagi pasar energi global. Ketika konflik memanas, harga minyak dunia ikut naik, dan sebagian masyarakat di berbagai negara langsung bereaksi dengan cara klasik, membeli bahan bakar lebih banyak dari biasanya.
Fenomena panic buying tersebut menjadi gambaran betapa sensitifnya pasar energi terhadap konflik internasional. Bagi Indonesia, situasi ini dianggap sebagai pengingat bahwa ketahanan energi nasional masih menghadapi tantangan serius.
Melansir berita detik.com. Dewan Pengarah Pusat Studi Energi UGM, Deendarlianto, menilai pemerintah perlu segera memperbaiki strategi pengelolaan energi agar tidak terus berada dalam posisi rentan.
Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah. Produksi domestik saat ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Ia menjelaskan produksi minyak mentah Indonesia bahkan belum mencapai 700 ribu barel per hari. Sementara konsumsi nasional diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.
Kondisi tersebut membuat Indonesia harus menutup selisih kebutuhan dengan mengimpor minyak dalam jumlah besar dari luar negeri.
Pandangan serupa juga disampaikan pakar energi dari Universitas Gadjah Mada, Rachmawan Budiarto. Ia menilai ketergantungan pada impor membuat Indonesia sangat rentan terhadap perubahan situasi geopolitik global.
Ketika jalur distribusi minyak dunia terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh negara yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










