LOCUSONLINE, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota yang jarang memberi ruang untuk bergerak santai, sekelompok orang justru diduga menjalankan aksi kejahatan dengan ritme yang disebut polisi cukup tenang. Bukan tur wisata malam, melainkan perjalanan yang berujung pada penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia.
Kasus tersebut menimpa Andrie Yunus, aktivis dari KontraS. Kepolisian kini mulai mengurai pergerakan para terduga pelaku melalui analisis digital serta rekaman kamera pengawas di sejumlah titik di Jakarta.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, menyampaikan bahwa dari hasil analisis sementara, para pelaku terlihat menjalankan aksinya dengan tingkat ketenangan yang mencolok.
Menurut Iman, pola pergerakan para terduga pelaku yang terpantau selama beberapa hari menunjukkan bahwa mereka tidak terburu-buru dalam berpindah lokasi. Hal tersebut terlihat sejak perjalanan awal hingga menjelang terjadinya insiden.
Polisi mengungkap jalur yang dilalui para terduga pelaku berdasarkan rekaman CCTV di sejumlah ruas jalan. Dari analisis tersebut, pelaku diduga telah mengikuti pergerakan korban sebelum kejadian berlangsung.
Pergerakan itu dimulai dari wilayah Jakarta Selatan menuju titik kumpul di kawasan Jalan Medan Merdeka Timur, tidak jauh dari Stasiun Gambir. Dari sana, rombongan terduga pelaku bergerak menyusuri Jalan Ir H Juanda di Jakarta Pusat.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Jalan Medan Merdeka Barat dan kemudian mengarah ke kawasan Tugu Tani, dengan rute yang secara tidak langsung mengelilingi kawasan Monumen Nasional.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













