LOCUSONLINE, JAKARTA – Ketika langit masih konsisten pada hukum astronomi, sebagian manusia justru terlihat lebih kreatif: mencoba “menegosiasikan” posisi bulan. Data hisab dari Lembaga Falakiyah PBNU, Kementerian Agama, dan BMKG menunjukkan hilal pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 H atau 19 Maret 2026 masih belum memenuhi standar visibilitas yang disepakati yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Namun di tengah angka-angka yang cenderung “tidak bisa diajak kompromi”, muncul dinamika yang justru sangat manusiawi: keinginan untuk menyamakan tanggal Lebaran, meskipun logika dan data terlihat ogah ikut serta.
Melansir berita nu.or.id. Katib Syuriyah PBNU, KH Sarmidi Husna, mengingatkan agar Kementerian Agama tetap setia pada aturan main yang sudah disepakati bersama, termasuk Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 dan konsensus MABIMS.
“Kami berharap ada transparansi dan konsistensi. Jangan sampai kesepakatan yang sudah dirawat bersama berubah hanya karena situasi tertentu,” ujarnya.
Dalam dunia falak, istilah imkanur rukyah bukan sekadar jargon teknis, melainkan “batas kesabaran ilmiah”. Jika lima metode hisab yang berbeda saja sudah sepakat bahwa hilal mustahil terlihat, maka kesaksian yang mengaku melihatnya seharusnya masuk kategori setidaknya“perlu dipertanyakan dengan serius”.
Namun, menurut KH Sarmidi, ada indikasi upaya “kreatif” dalam membaca data. Salah satunya dengan menurunkan standar elongasi dari 6,4 derajat menjadi 6 derajat, demi memberi ruang bagi kemungkinan terlihatnya hilal.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










