LOCUSONLINE, GARUT – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini resmi naik kelas dari “tegang regional” menjadi “drama global berjilid-jilid”. Babak terbaru dibuka dengan masuknya kelompok Houthi dari Yaman membuktikan bahwa dalam geopolitik, kalau satu pihak ribut, yang lain biasanya ikut antre.
Keterlibatan Houthi menandai eskalasi konflik yang tidak hanya memperluas peta perang, tetapi juga memperbesar potensi gangguan terhadap ekonomi global, terutama di jalur energi yang selama ini jadi “urat nadi” dunia, bukan sekadar jalur lewat kapal.
Di tengah situasi yang semakin kompleks, Pakistan berinisiatif menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara kuat kawasan pada Senin mendatang. Agenda utamanya terdengar mulia, ingin mencari solusi damai. Namun, ironi muncul ketika pihak-pihak yang sedang berperang justru tidak diundang. Diplomasi pun tampak seperti rapat keluarga tanpa anggota yang sedang bertengkar.
Pertemuan tersebut rencananya akan mempertemukan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir. Sementara itu, klaim Amerika Serikat soal kemajuan diplomatik terus dipertanyakan, mengingat realitas di lapangan justru berbunyi, rudal masih lebih aktif daripada negosiator.
Mengutip The Guardian. Pada Sabtu, kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal balistik ke target militer sensitif di Israel dan berjanji akan melanjutkan operasi hingga apa yang mereka sebut “agresi” dihentikan. Dengan kata lain, konflik kini punya pemain tambahan yang siap memperpanjang durasi episode.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










