LOCUSONLINE, GARUT – Ketika serangan udara dan rudal tak kunjung melumpuhkan Iran, tekanan terhadap Presiden Donald Trump untuk naik level ke invasi darat kian menguat. Namun seperti banyak keputusan besar dalam sejarah militer, opsi ini datang dengan paket lengkap: risiko besar, dukungan publik minim, dan bayang-bayang kegagalan masa lalu.
Sejak awal konflik pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat sebenarnya sudah mempertimbangkan skenario darat. Bahkan, strategi klasik “merangkul minoritas” sempat masuk meja perencanaan, satu formula lama yang pernah digunakan saat invasi ke Afghanistan (2001) dan Irak (2003).
Namun kali ini, strategi itu kandas sebelum sempat dijalankan.
Kelompok Kurdi yang dulu menjadi mitra penting AS dalam memerangi ISIS kini menolak tawaran kerja sama. Pengalaman pahit ditinggalkan setelah konflik sebelumnya membuat mereka enggan kembali menjadi pion dalam permainan geopolitik.
Pilihan lain, kelompok Baluch di selatan Iran, juga mentok karena penolakan dari Pakistan, yang khawatir instabilitas akan merembet ke wilayahnya.
Dengan demikian, “buku teks” strategi divide et impera AS tak lagi relevan di Iran. Trump pun beralih ke opsi yang lebih langsung: kirim pasukan.
Rencana terbaru melibatkan sekitar 10.000 personel, termasuk Unit Ekspedisi Marinir (MEU), Divisi Lintas Udara ke-82, hingga pasukan elit seperti Baret Hijau dan Delta Force. Jumlah ini jauh lebih kecil dibanding invasi Irak 2003 yang mencapai 150.000 tentara, menandakan target operasi yang lebih terbatas.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










