[Locusonline.co] BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengajak masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak sebagai langkah utama menekan risiko penularan penyakit yang kini tengah mengalami peningkatan kasus. Hingga Maret 2026, Dinkes mencatat sebanyak 248 kasus suspek campak, dengan 28 kasus di antaranya telah terkonfirmasi. Seluruh pasien dilaporkan telah membaik tanpa adanya kasus kematian.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menyampaikan bahwa pencegahan melalui imunisasi menjadi kunci utama dalam melindungi anak-anak dari campak yang sangat menular.
“Campak ini penyakit yang sangat mudah menular, bahkan lebih tinggi dari Covid-19. Satu orang bisa menularkan ke 17 sampai 18 orang. Tapi ini bisa dicegah dengan imunisasi,” ujar Dadan, Selasa (31/3/2026).
Mayoritas Kasus pada Balita yang Belum Diimunisasi
Dadan mengungkapkan, sebagian besar kasus terjadi pada kelompok balita, dan sekitar 69 persen di antaranya belum mendapatkan imunisasi campak.
“Ini menunjukkan pentingnya imunisasi. Mayoritas kasus yang kita temukan justru terjadi pada anak yang belum diimunisasi, ” katanya.
Cakupan Imunisasi Campak Rubella Masih di Bawah Target
Data Dinkes menunjukkan, cakupan imunisasi campak rubella di Kota Bandung masih belum mencapai target nasional sebesar 95 persen:Jenis Imunisasi Cakupan 2024 Cakupan 2025 MR1 (bayi 9 bulan) 84,3% 84,3% MR2 (bayi 18 bulan) 59,5% 66,9% Imunisasi anak kelas 1 SD 87% –
“Masih ada kesenjangan antara imunisasi dasar dan lanjutan. Banyak yang menganggap cukup di usia 9 bulan, padahal imunisasi lanjutan di 18 bulan itu wajib, ” jelasnya.
Imunisasi Kejar Digencarkan di Seluruh Kecamatan
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Bandung terus menggencarkan program imunisasi kejar (catch-up campaign) di seluruh kecamatan. Program ini menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, tanpa melihat keterlambatan usia selama masih dalam rentang balita.
“Silakan masyarakat datang ke puskesmas atau melalui kader. Imunisasi kejar tetap bisa diberikan selama anak masih dalam usia sasaran,” ujar Dadan.
Untuk meningkatkan cakupan, Dinkes juga menggandeng aparat kewilayahan seperti kecamatan, kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas guna mengedukasi masyarakat.
Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai
Dinkes mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala campak yang umumnya diawali dengan:
- Demam tinggi
- Ruam pada kulit
- Batuk, pilek, dan mata merah
Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam, tanpa menunggu munculnya ruam.
Isolasi Mandiri dan Masker untuk Cegah Penularan
Untuk mencegah penularan, penderita yang diduga campak dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari dan menggunakan masker.
“Virus campak bisa bertahan di udara hingga dua jam. Jadi penggunaan masker dan isolasi mandiri sangat penting untuk mencegah penularan,” katanya.
Target 95 Persen: Kekebalan Kelompok untuk Lindungi Masyarakat
Dadan menjelaskan, imunisasi merupakan perlindungan paling efektif terhadap campak. Dengan cakupan imunisasi mencapai 95 persen, kekebalan kelompok (herd immunity) dapat terbentuk dan melindungi masyarakat secara luas.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk mengecek kembali status imunisasi anaknya. Jika belum lengkap, segera lengkapi. Ini penting untuk melindungi anak dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Dengan tingkat penularan campak yang sangat tinggi, imunisasi menjadi benteng perlindungan utama. Kasus yang terjadi di Bandung menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak diimunisasi adalah yang paling rentan. Imunisasi kejar yang digencarkan Dinkes adalah kesempatan emas untuk melengkapi perlindungan anak. Jangan tunda, segera bawa anak ke puskesmas terdekat. (**)












