LOCUSonline, GARUT – Pemerintah Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, dengan alasan bahwa jeda konflik justru berpotensi dimanfaatkan pihak lawan untuk menyusun ulang kekuatan dan melanjutkan serangan.
Dalam konferensi pers, Senin (7/4), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut proposal Washington yang dikabarkan berisi 15 poin sebagai tawaran yang “tidak logis” dan sarat tuntutan sepihak.
Alih-alih menjadi jalan damai, proposal tersebut dinilai lebih menyerupai daftar permintaan panjang yang mengharuskan Iran menghentikan program nuklir damainya, membatasi sistem rudal pertahanan, hingga membuka kembali Selat Hormuz tanpa jaminan keamanan yang jelas.
“Gencatan senjata sepihak seperti itu hanya memberi waktu bagi musuh untuk berkumpul kembali dan melakukan agresi lanjutan,” kata Baghaei.
Iran menilai pendekatan yang dilakukan Washington tidak lebih dari “damai bersyarat” yang dibungkus ultimatum. Terlebih, ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyasar infrastruktur vital Iran justru memperkuat ketidakpercayaan Teheran terhadap niat diplomasi tersebut.
Dalam pandangan Iran, sulit mempercayai tawaran damai yang disampaikan bersamaan dengan ancaman pemboman, sebuah kombinasi yang terdengar seperti negosiasi, namun dengan nada tekanan tinggi.
Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tuntutan yang dianggap berlebihan, sekaligus menolak segala bentuk “gencatan senjata” yang tidak memiliki mekanisme jaminan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










