LOCUSONLINE.CO - Belum lama ini, warga Desa Jatisari, Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut mengaku membutuhkan biaya untuk pengobatan anaknya karena divonis penyakit Hidrosefalus dan Celebral Palsy.
Karena penyakit yang dideritanya itu, sang bayi harus menjalani operasi di RS Santosa Bandung. Bahkan operasi itu harus dilakukan sebanyak dua kali.
Operasi akhirnya berjalan dengan lancar, karena banyak pihak memberikan bantuan. Baik berupa uang tunai maupun pembayaran biaya BPJS (Badan Penyelenggara Jasa Kesehatan) beserta dendanya. Bahkan salah satu partai politik memberikan bantuan berupa mobil ambulans untuk membawa pasien ke RS Santosa di Bandung.
Bayi bernama Azima Nur Afizah (10 bulan) kini menjalani pemeriksaan rutin dan fisioterapi Hidrosefalus di RS Slamet Kabupaten Garut. Sementara itu, kondisi perekonomian kedua orang tuanya sedang mengalami kesulitan, karena diduga menjadi korban penipuan dan usahanya yang merugi.
Menyikapi kondisi masyarakatnya yang terkena musibah, Kepala Desa Jatisari, Dadan Daman melalui Sekdes dan Kasie Kesejahteraan Desa Jatisari, Rino Ariyono dan Julianti Fitria mengatakan, awalnya pihak desa mendapatkan informasi dari salah satu calon kerabatnya yang kini akan maju sebagai kandidat calon legislatif salah satu partai.
"Saya mengetahui keluarga ibu Widya dari salah satu caleg, yang kebetulan caleg tersebut calon kerabat saya. Beliau menginformasikan bahwa salah satu tetangganya di Komplek Anggrek kini berada di Desa Jatisari, bersama kedua orang tuanya," ujar Julianti Fitria mewakili kepada desa yang saat itu sedang berada di luar kantor, Kamis (26/10/2023).
Namun, sambung Julianti, menurut caleg tersebut, kondisi tetangganya sedang mendapat musibah, diantaranya putrinya divonis menderita Hidrosefalus. Setelah itu, Julianti pun mengaku langsung menghubungi pihak RT dan RW setempat dan kemudian dirinya berkunjung ke rumah Widya.
"Kita langsung koordinasi sama RT, RW dan pihak puskesmas. Lalu saya berkunjung langsung ke rumahnya ibu Widya. Disana kita ngobrol dan berbincang-bincang. Disana juga saya baru tahu kalau rumah itu milik ibu Widya dan kedua orang tuanya ikut bersama ibu Widya," katanya.
Memang benar, ujar Julianti, ketika melihat kondisi rumah dan perabotannya bisa disebut ibu Widya dan keluarganya termasuk kategori yang berkecukupan.
"Kita baru kenal dan saya tidak tahu persis kondisi keuangan ibu Widya. Hanya saja, walau rumah dan perabotannya termasuk kategori orang mampu, tapi kita mendengar bahwa perekenomian Ibu Widya mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan putrinya divonis menderita Hidrosefalus," katanya.
Setelah mengetahui tentang permasalahan yang dihadapi keluarga Widya, pihak desa mengumpulkan donasi sukarela untuk membantu warganya untuk berobat.
"Dari bantuan sukarela yang terkumpul dari warga, ditambah lagi dari uang pribadi pa kades, kita berikan langsung ke Ibu Widya sebelum membawa putrinya ke RS Santosa Bandung. Itu yang dimaksud ibu Widya uang koropak," terang Julianti.
Bukan Meminta Biaya Ambulans
Julianti Fitria yang didampingi Sekdes Rino Ariyono pun mengungkapkan, menjelang operasi kedua, ada komunikasi antara dirinya dengan pihak Widya sebagai orang tua Azima Nur Afizah.
"Saat itu ibu Widya meminta untuk diantar ke RS Santosa di Bandung menggunakan ambulans milik Desa Jatisari. Lalu saya sampaikan kalau mobil ambulans itu gratis karena milik aset desa artinya milik warga juga, tetapi untuk biaya lain seperti uang bensin dan uang lelah untuk supir itu ditanggung masyarakat yang menggunakannya," katanya.
Tetapi, sambung Julianti, pihaknya merasa heran tatkala banyak kabar beredar bahwa pihak desa meminta biaya untuk supir dan bensin ambulans, padahal itu tidak benar.
"Mungkin akang paham. Di desa itu tidak menyediakan dana untuk biaya supir dan bensin, maka kita mengembalikan kepada masyarakat. Biasanya masyarakat ada yang ngasih ke supir itu bervariatif, ada 200, 250 atau 300.000, sesuai kemampuan warga itu sendiri. Itu yang saya sampaikan ke ibu Widya. Tetapi, kalau masyarakat yang benar-benar tidak memiliki biaya, maka kami pun akan berusaha untuk membantu," ungkapnya.
Setelah pasien yang notabene warga Desa Jatisari menjalani operasi kedua kalinya itu, pihak desa pun mengintruksikan kepada RT dan RW di sekitar lokasi warga untuk kembali mengumpulkan bantuan seikhlasnya.
"Alhamdulillah warga pun banyak yang mau membantu secara sukarela. Tadi pagi pun kami telah berkunjung ke rumah Ibu Widya bersama Ibu Kades Jatisari, Kepala Puskesmas Karang Mulya dan Bidan Desa," pungkasnya.
-
Pihak Desa Berusaha Membantu
Di tempat yang sama, Sekretaris Desa Jatisari, Rino Ariyono menegaskan, segala aktifitas desa dan penggunaan anggaran di desa disesuaikan dengan pengajuan dari masyarakat dan peraturan yang ada. Selain itu, ketika ada persoalan yang berkaitan dengan masyarakat, namun tidak masuk pada APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa), maka akan dilakukan musyawarah.
"Seperti untuk kasus keluarga Ibu Widya yang harus mengobati putrinya ke RS Santosa Bandung, sejak awal kita semua sebagai Aparatur desa langsung melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait seperti RT, RW, Puskesmas dan lainnya. Semua kita laksanakan sesuai hasil musyawarah," katanya.
Sementara itu, orang tua Azima Nur Afiza
h, Widya Oktavianti mengatakan, perhatian kepada putri tercintanya, kini semakin banyak. Bantuan pun terus datang dari berbagai pihak, seperti dari pengusaha, kader partai dan lainnya.
"Terimakasih kepada pihak Desa Jatisari, Dinas Sosial Garut, Baznas Garut, Ketua Pemuda Pancasila Garut, Kader PKS, PPP dan PDIP Garut serta semua pihak yang telah membantu. Bantuan ini sangat membantu saya dan keluarga," tandasnya. (asep ahmad)