Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, AJ langsung melakukan penelusuran ke desa-desa yang disebutkan oleh WS.
Hasil penelusurannya, AJ menemukan dua titik di Desa Jatimekar, tiga titik di Desa Cikalong, dan satu titik di Desa Margajaya. Ia juga mendapatkan informasi dari pengusaha lain, berinisial D, bahwa di Desa Margajaya terdapat delapan titik pekerjaan.
Di tengah perjalanan, AJ dihubungi oleh pengusaha berinisial D yang menyatakan bahwa dua titik di Desa Cikalong merupakan pekerjaannya.
“Saya tidak tahu dari mana WS mendapatkan informasi itu. Kalau menurut D itu miliknya, ya kembali lagi kepada WS. Akhirnya kami kembali bernegosiasi soal uang,” tegasnya.
D juga mengarahkan AJ untuk mengambil pekerjaan di desa lainnya, seperti di Desa Rajamandalakulon. Mendengar itu, AJ merasa sedikit tenang karena WS bertanggung jawab. Namun, ternyata pekerjaan di Desa Rajamandalakulon justru diberikan kepada tim WS sendiri.
“Akhirnya, pekerjaan di Rajamandalakulon diberikan ke tim WS, di Jatimekar bukan milik WS tapi milik IB dari PKS, di Cikalong sudah dikerjakan tapi tidak diberikan kepada saya. Akhirnya, semua janjinya nihil,” ujarnya.
“Saya menghubungi WS dan mengatakan bahwa saya mau mengambil kembali uang saya karena saya membutuhkannya. Namun, dia tidak merespon, tidak membalas pesan WhatsApp, dan tidak mengangkat telepon. Sampai hari ini tidak ada respon. Bingung rasanya, padahal saya berbicara dengan baik,” tambahnya.
AJ menegaskan bahwa dirinya tidak memaksa WS untuk memberikan pekerjaan kepadanya. Ia hanya ingin uangnya sebesar Rp 25 juta segera dikembalikan.

Reporter dari Kabupaten Bandung Barat. Fokus pada isu-isu lokal dan berkomitmen untuk menyajikan berita yang akurat serta bermakna bagi masyarakat.