Kamis, 4 Juni 2026

Pasar Cinde: Dari Cagar Budaya Jadi Cagar Dosa, Eks Wali Kota Harnojoyo Resmi "Dibungkus"

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Selasa, 8 Juli 2025 | 13:48 WIB
DOKUMENTASI KEJAKSAAN TINGGI SUMATERA SELATAN  Wali Kota Palembang 2015-2023 Harnojoyo ditetapkan sebagai tersangka kelima kasus dugaan korupsi proyek revitalisasi bangunan cagar budaya Pasar Cinde, Palembang, Sumatera Selatan, seusai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Palembang, Senin (7/7/2025) petang.
DOKUMENTASI KEJAKSAAN TINGGI SUMATERA SELATAN Wali Kota Palembang 2015-2023 Harnojoyo ditetapkan sebagai tersangka kelima kasus dugaan korupsi proyek revitalisasi bangunan cagar budaya Pasar Cinde, Palembang, Sumatera Selatan, seusai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Palembang, Senin (7/7/2025) petang.

LOCUSONLINE, PALEMBANG — Aroma busuk megaproyek revitalisasi Pasar Cinde akhirnya benar-benar menusuk hidung penegak hukum. Setelah bekas Gubernur Sumsel Alex Noerdin lebih dulu digiring sebagai tersangka, kini giliran mantan Wali Kota Palembang, Harnojoyo, resmi mengenakan rompi tahanan berwarna merah — simbol kehancuran moral birokrasi — dalam pusaran korupsi yang diduga menggerogoti hampir Rp1 triliun uang negara.

Ditangkap pada Senin petang (7/7/2025) usai pemeriksaan marathon sejak pagi, Harnojoyo langsung dikunci di Rumah Tahanan Kelas I A Pakjo, Palembang, selama 20 hari ke depan. Dalam pernyataan terburu-buru kepada awak media sebelum menaiki mobil tahanan, mantan orang nomor satu di Palembang itu menyejukkan suasana dengan kalimat standar klasik: "Saya mohon maaf kepada masyarakat Palembang."

Kejaksaan Tinggi Sumsel tak lagi berpuas diri pada status Harnojoyo sebagai saksi. Dengan mengantongi bukti elektronik yang dianggap cukup, penyidik menyimpulkan: ada permainan kebijakan yang melanggar batas kepatutan, terutama dalam pemberian diskon 50 persen BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) kepada PT Magna Beatum — pengembang proyek Pasar Cinde yang ternyata bukan lembaga amal.

Padahal, angka potongan tersebut bukan recehan. Dari nilai semestinya Rp2,2 miliar, PT Magna hanya setor Rp1,1 miliar. Celakanya, menurut penyidik, aliran dana justru berputar balik ke Harnojoyo. Tak hanya itu, keputusan Harnojoyo membongkar bangunan cagar budaya juga menambah daftar dosa yang sulit ditebus dengan sekadar permintaan maaf.

Pasar Cinde bukan sembarang pasar. Statusnya sebagai cagar budaya tak cukup menyelamatkannya dari godaan investasi bodong yang dibalut dalih pembangunan. Fasad bangunan boleh tersisa, tapi integritas birokrasi ambruk total. Dengan proyek yang dibungkus skema BGS (Bangun Guna Serah) pada 2016–2018, negara justru kecolongan: dari proses pengadaan abal-abal, hingga kontrak yang tak sesuai hukum.

Baca Juga :


Jalan Berlubang, Uang Mengalir: Dugaan Skandal Proyek Aspal, Kapolres Nyaris Jadi Tersangka



Harnojoyo hanya satu dari lima tersangka. Sebelumnya, nama besar Alex Noerdin kembali mencuat sebagai tersangka setelah rekam jejaknya dalam proyek Masjid Raya Sriwijaya dan kasus gas bumi menyematkan vonis 9 tahun penjara.

Sisa tiga tersangka lain juga tak kalah gemilang: dari Ketua Panitia Pengadaan BGS, Direktur hingga Kepala Cabang PT Magna Beatum. Salah satunya bahkan tengah “wisata lama” di luar negeri dan enggan pulang. Salah satu modus busuk yang terkuak adalah upaya obstruction of justice — termasuk mencari "pemeran pengganti" yang siap “masuk kandang” dengan tarif Rp17 miliar.

Dari hasil hitung kasar kejaksaan, kerugian negara dalam skandal ini hampir menembus angka Rp1 triliun. Rinciannya: Rp892 miliar untuk kerusakan fisik bangunan cagar budaya, Rp43,6 miliar dari dana masyarakat pembeli kios, serta kehilangan potensi pendapatan daerah dari BPHTB sekitar Rp1,2 miliar.

Namun jaksa mengingatkan: ini baru permulaan. Audit BPKP masih berjalan. Jika proses penyidikan terus membuka lapisan kecurangan lainnya, angka tersebut bukan tidak mungkin menembus level absurd dalam catatan kerugian publik.

Kasus Pasar Cinde adalah pelajaran pahit tentang bagaimana wajah pembangunan sering kali hanya kamuflase dari nafsu memperkaya diri. Harnojoyo mungkin bukan aktor tunggal, tapi jelas merupakan bagian penting dari pentas korupsi berjamaah yang mengorbankan sejarah, keuangan negara, dan nasib ribuan pedagang kecil.

Dan seperti biasa, publik hanya bisa menunggu — apakah rompi merah akan terus bertambah, atau justru berubah jadi simbol impunitas berjilid-jilid. (Bhegin)

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X