Aktivis lingkungan dan jurnalis setempat menyesalkan pola rekrutmen yang lebih misterius dari lowongan CPNS. “Ada apa dengan perusahaan-perusahaan ini? Apa salahnya menerima anak kampung sendiri?” ujarnya dengan nada tanya yang mungkin tak akan dijawab.
Padahal Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, dengan semangat TikTok dan Instagramnya telah menyuarakan instruksi gamblang: pekerjakan warga sekitar! Namun tampaknya, perintah dari layar gawai belum cukup untuk menembus dinding HRD.
Pabrik terus berdiri. Tembok semakin tinggi. Tapi suara warga yang meminta hak untuk hidup layak justru semakin lirih. Di Desa Haruman, pembangunan tidak lagi soal kesejahteraan. Ia telah menjadi monumen sunyi dari sebuah sistem yang lebih senang mendengar suara mesin daripada suara rakyatnya. (Nuroni)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”