Pertemuan satu kali selama satu pekan itu dia manfaatkan untuk berkumpul dengan ayah dan ibu yang ia cintai. Setiap kali pulang ke kampung halamannya, Dindin manfaatkan untuk bercengkrama dengan ayahnya yang dikenal sebagai tokoh agama, dan ibu tercintanya yang selalu menanti kehadirannya.
Pria berwajah tampan berperawakan tingggi kurus, berkulit putih itu dikenal sebagai seorang yang cerdas, baik dan sederhana.
Karirnya pun sangat baik. Bahkan, berdasarkan informasi dari rekan sesama guru, prestasi Dindin sebagai guru olahraga menjadi kebanggaan, sehingga Dindin diajukan sebagai Ketua Komite Olahraga Kecamatan (KOK).
Namun sayang, tiba-tiba Dindin dikabarkan telah meninggal dunia karena bundir (bunuh diri). Kabar tersebut pertama kali didengar oleh keluarga dari Polsek Sidareja. Sementara masyarakat tahu dari pemberitaan yang disampaikan media massa.
Kuasa Hukum keluarga Almarhum Dindin, Asep Muhidin, S.H., M.H mengajukan RDP ke Komisi III DPR RI untuk mendapatkan keadilan dan penjelasan yang utuh sesuai dengan SCI (Scientific Crime Investigation) dari Polri, karena selama ini tidak pernah mendapatkan penjelasan yang menguatkan bahwa korban benar-benar bunuh diri, dengan cara menabrakan diri kepada Kereta Api, karena tidak ada saksi satu orang pun yang melihat langsung korban melakukan upaya bunuh diri.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues