Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi dan psikolog anak Sani Budiantini Hermawan sepakat:
Game kekerasan memang bisa memengaruhi emosi dan persepsi anak, tapi akar masalahnya bukan cuma game melainkan pengawasan, literasi digital, empati sosial, dan minimnya ruang aman untuk curhat selain ke headset dan teman anonim di server Asia.
Mereka meminta orang tua melakukan hal yang sudah diingatkan sejak era warnet:
- batasi screen time,
- pantau emosi anak,
- ajak ngobrol,
- dan tolong, jangan serahkan seluruh pengasuhan ke WiFi.
Jika game tembak-tembakan bisa membuat anak meledakkan sekolah, apakah game panen jagung akan membuat anak rajin bertani?
Sampai tulisan ini diturunkan, belum ada rencana Presiden membatasi film aksi, serial brutal, atau konten gelap di internet yang jauh lebih mudah diakses daripada PUBG.
Untuk saat ini, pemerintah fokus dulu pada yang paling mudah: game yang bisa di-uninstall, bukan trauma yang tidak bisa.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









