PT Changshin Reksa Jaya, bintang utama industri sepatu di Garut, telah menyerap 15.000 pekerja. Angka yang sering dijadikan contoh keberhasilan pembangunan tanpa menyebut berapa banyak dari mereka yang kontrak pendek, outsourching, atau sudah tiga kali ganti ID card tanpa kepastian status.
Pemkab Garut mengaku bangga melihat geliat industri yang kian ekspansif. Mereka bertekad memberi “kemudahan-kemudahan” bagi investor istilah multitafsir yang biasanya berarti: perizinan dipercepat, urusan warga belakangan.
Target penyerapan tenaga kerja 20.000 orang pada 2025 juga dikibarkan sebagai bukti keseriusan pemerintah. Hingga Agustus 2025, Disnakertrans mencatat 7.489 orang telah terserap ke sektor formal dan informal.
Angka ini terdengar menjanjikan, walau publik belum benar-benar mendapat jawaban:
berapa yang gajinya layak, berapa yang kontrak tiga bulan, dan berapa yang sebenarnya pindah kerja karena pabrik lama tak memperpanjang kontrak.
Investasi di Garut memang bergerak cepat. Hampir secepat warga yang melamar kerja setiap kali pabrik membuka lowongan baru. Dan tentu saja lebih cepat daripada pemerintah menjawab pertanyaan dasar,
apa jaminannya investasi ini tidak berubah menjadi proyek mercusuar lain?
Untuk sekarang, satu hal jelas pabrik baru sudah pasti berdiri tetapi nasib tenaga kerja? Itu tergantung siapa yang lebih dulu datang investornya, hujan deras, atau inspeksi dari dinas ketenagakerjaan yang selalu muncul seperti tamu lebaran jarang, tapi penuh formalitas.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










