LOCUSONLINE, GARUT – Intensitas hujan yang makin gesit dari jadwal pembangunan desa membuat tanah di Kampung Pasantren, Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, memutuskan bergeser sendirian. Akibatnya, satu rumah panggung yang sudah lama ditinggalkan roboh, ikut hanyut dalam drama geologi musiman. Delapan rumah lainnya ikut kena imbas mulai dari retak halus sampai retak yang bikin pemiliknya mendadak rajin mengaji.
Kapolsek Caringin, IPDA Indra Koncara, beserta anggota dan unsur Forkopimcam terjun ke lokasi pada Rabu (26/11/2025). Lima hektare area terdampak berhasil mereka pantau, meski yang lebih butuh dipantau sebenarnya kemampuan mitigasi bencana daerah yang seperti biasa baru gerak setelah tanahnya pindah alamat.
Baca Juga : 1 Desa 100 Perlindungan”: Purwakarta Pamer Kepedulian, Warga Tetap Bingung Kapan Sejahtera Datangnya
Rumah terdampak tersebar di dua RT, dua RW, dan satu realitas pahit yang selalu sama: warga paling dulu menerima dampak, aparat paling dulu menerima laporan. Untungnya, tak ada korban jiwa. Kerugiannya “hanya” Rp150 juta angka yang biasanya baru dianggap serius kalau masuk proposal, bukan laporan bencana.
Forkopimcam Caringin bersama pemerintah desa langsung ambil langkah-langkah standar: cek lokasi, koordinasi ke dinas terkait, dan tentu saja imbauan klasik agar masyarakat tetap waspada. Semua terdengar seperti template mitigasi yang copy-paste dari tahun kapan pun, sementara warga cuma bisa berharap tanahnya berhenti geser sebelum gajian cair.
“Kami akan terus memantau,” ujar Indra, yang berarti hujan turun, tanah geser, laporan masuk siklus tahunan yang entah kapan diperbaiki.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










