LOCUSONLINE, BANDUNG – Di tengah riuh kota Bandung yang sok ramah tapi macetnya bikin iman retak, sebuah operasi senyap tengah berjalan. Bukan operasi besar, bukan pula razia knalpot brong. Ini operasi Propam, yang mendadak turun tangan setelah mencuat dugaan pungli tilang oleh oknum polantas praktik klasik yang sudah lebih tua dari stand-up komedi Indonesia.
Kasusnya bermula dari sebuah video yang beredar: seorang pengendara diduga diminta ‘uang damai’. Nominalnya tidak disebut, tapi bahasa tubuhnya universal sama seperti bahasa cinta, hanya saja ini lebih dekat ke bahasa kriminal kecil-kecilan.
Di balik seragam putih-biru yang harusnya menjaga ketertiban, muncul cerita lama: tilang yang bisa lunas tanpa kertas, cukup amplop dan tatapan saling paham. Polisi menyebutnya pelanggaran etika. Warga menyebutnya paket hemat.
Baca juga : TOT Polisi Sadar Berkarakter: 15 Hari Dilatih, Seumur Hidup Diharapkan Berubah
Propam lalu memeriksa oknum yang diduga terlibat. Pemeriksaan, seperti biasa, terdengar gagah di konferensi pers namun publik tahu, banyak pemeriksaan berakhir seperti sinetron yang tak selesai-selesai: panjang, dramatis, tapi tak jelas ujungnya.
Bandung, kota yang bangga dengan kreativitasnya, tampaknya tetap gagal berinovasi di satu bidang: pungli model lama yang tak pernah pensiun. Dari generasi ke generasi, praktiknya selalu sama pengendara gugup, polisi tegas, dompet terbuka, masalah selesai sebelum sempat tercatat dalam sistem.
Di media, pejabat kepolisian menjanjikan penindakan tegas. Di lapangan, warga menunggu apakah kasus ini akan jadi contoh, atau hanya episode rutin yang menguap seperti jalanan Braga setelah hujan?

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










