[Locusonline.co, Aceh Tamiang] — Di tengah banjir dan longsor yang melumpuhkan, antrian warga untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi pemandangan sehari-hari. Bukan karena kelangkaan, tetapi karena cara mendapatkannya harus kembali ke metode puluhan tahun silam: manual.
Dari 23 kabupaten/kota di Aceh yang terdampak bencana, Aceh Tamiang menanggung kerusakan terparah. Imbasnya langsung terasa di sektor energi: 6 dari 7 SPBU di wilayah ini lumpuh total, terendam lumpur. Listrik padam, infrastruktur rusak, membuat pompa bensin elektrik tak berguna.
“Kondisi lokasi, kelistrikan, dan infrastruktur SPBU memerlukan waktu pemulihan sebelum bisa kembali berfungsi normal,” jelas Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut.
Namun, kekosongan layanan tidak berarti warga dibiarkan. Pertamina melakukan terobosan darurat yang tidak lazim di era modern: mengoperasikan kembali mesin pompa manual atau ‘canting’ di SPBU 14.244.430 di Kelurahan Pangkalan.
Skema Darurat: Dari Tangki ke Drum, Lalu ke Canting

Layanan darurat ini adalah sebuah proses yang membutuhkan kesabaran ekstra. BBM dari Mobil Tangki berkapasitas 16.000 liter pertama-tama harus dipindahkan ke dalam 80 drum yang telah disiapkan. Dari drum-drum inilah, barulah 10 unit canting manual bekerja, menyalurkan BBM ke kendaraan konsumen dengan alat ukur yang tetap terstandarisasi.
“Antrian tidak dapat dihindarkan karena BBM dari Mobil Tangki harus terlebih dahulu dimuat ke dalam drum. Dari drum tersebut, BBM dialirkan kepada konsumen dengan pompa manual,” ujar Misbah Bukhori, Sales Area Manager Retail Aceh. Proses yang melelahkan ini dijalankan oleh gabungan pegawai Pertamina, TNI-Polri, dan relawan sejak 4 Desember 2025.
Lonjakan Kebutuhan dan Upaya Tambahan
Tekanan pada sistem darurat ini kian besar karena lonjakan permintaan. Fahrougi mengungkapkan, kebutuhan BBM normal SPBU di sana sekitar 25 Kiloliter (KL) per hari. Saat bencana, angka itu melonjak sekitar 50% menjadi 38 KL per hari, didorong oleh kebutuhan operasional logistik, evakuasi, dan pemulihan.
Untuk memperkuat pasokan, Pertamina juga menerapkan solusi teknologi lain: mengoperasikan dispenser modular. Unit pompa siap pakai ini, seperti yang digunakan di SPBU Polonia Medan, disuplai langsung oleh Mobil Tangki berisi Pertamax untuk memenuhi kebutuhan khusus masyarakat.
Pembersihan Bertahap dan Imbauan ke Publik
Sambil menjaga layanan darurat, pemulihan infrastruktur permanen juga digenjot. Tim gabungan Pertamina, Hiswana Migas, dan pihak terkait secara bertahap membersihkan SPBU dari lumpur. Prioritas utamanya adalah keamanan, termasuk memastikan listrik dalam kondisi nonaktif untuk mencegah korsleting saat proses pembersihan berlangsung.
Pertamina menegaskan bahwa pasokan BBM ke Aceh Tamiang dalam kondisi cukup dan terus dipercepat penyalurannya. Mereka mengimbau masyarakat untuk membeli BBM secukupnya dan tidak menimbun, agar sistem distribusi darurat yang sudah bekerja keras ini dapat melayani lebih banyak orang dengan lancar.
::
Situasi di Aceh Tamiang adalah potret nyata betapa rentannya infrastruktur energi modern terhadap guncangan alam. Ketika listrik padam dan teknologi canggih tak berdaya, justru solusi sederhana dan manual-lah yang menjadi penyelamat. Kerja sama antara BUMN, TNI-Polri, relawan, dan kesabaran masyarakat menjadi kunci agar mata rantai logistik dan mobilitas di daerah bencana tidak terputus sepenuhnya. Episode ini mengingatkan bahwa ketangguhan sistem tidak hanya tentang teknologi tinggi, tetapi juga tentang kesiapan memiliki backup plan yang paling mendasar. (**)













